Artikel Terbaru

header ads

Tuhan Mahaguyon dan Gus Agus M Zaki


Oleh: dokterGeJe/ Jurumantri laden RMI NU

Tak terasa, sepuluh tahun lamanya, aku ikut jadi "juru mantri laden " kesehatan di RMI NU Jatim. Di awali melalui baksos di ponpes Miftahussunah milik romo KH Miftahul Akhyar  di daerah Kedung Tarukan Surabaya. Aku mulai mengenal tentang NU dan para  kyai, gus dan para guru ustadz , lingkungan ponpes.
 
Aslinya, keluarga kami memang terlahir dari keluarga NU. Paman ayahanda, masih kerabat ponpes Asshidiqqiyah Jember. Rumah kami, tepat di depan pesantren Asshidiqiyyah, daerah pasar Tanjung Jember. Saat masih kecil, aku terbiasa diajak sowan, ke  romo KH. Ahmad Shidiq . Yai biasa kami panggil Kyai Ahmad Shidiq. Ayahku berbincang dan berdiskusi, aku bermain di pelataran ponpes.

Namun dalam perjalanan waktu, aku seolah " lepas" dari komunitas NU dan juga kelompok semisal Muhammadiyah dll. Aku mulai hidup dengan duniaku, dengan agama " hanya" sebagai aksesorisnya saja. Banyak hal kontradiksi yang menurutku" absurd" dan aneh, tentang agama. Maklum, masih mencari jati diri. Sehingga aku lebih menyibukkan diri dengan organisasi sosial , budaya dan bisnis. Agama, masih sebatas ritual dan aksesoris saja.

Namun betul kata pepatah" buah takkan jatuh, jauh dari pohonnya". Akhir tahun 2009, aku mulai bergiat, membuat program kecil, untuk pondok pesantren. Yang akhirnya , tanpa disadari, berjalan terus. Hingga saat ini. 

Perkenalanku  dengan RMI NU Jatim, dimulai dari kontak telpon dengan Gus Haji Ahmad Firdausi Yang nomer kontaknya aku dapat dari Abah Legowo kadri Djarum, yang sudah aku kenal hampir duapuluh tahun. 
Dan ternyata Gus Firdausi ini , menerima dengan ramah dan senang hati. Beliau, lebih mengedepankan profesi sebagai tukang dodol kitab ketimbang posisi mentereng sebagai dosen UIN Sunan Ampel. 

Mas Yusi, beliau biasa dipanggil begitu. Tapi Aku tetap memanggilnya Gus Firdaus. Karena kharisma brewok, berat badan dan cara bertausyiahnya, penuh aura kesantrian. ( apa hubungan, brewok, BB dan tausyih dengan aura, kita bahas nanti).

Dari beliaulah, aku mengenal 3  tokoh utama gerakan " Ayo Mondok". Gus Lukman ponpes Tremas Pacitan, Gus Reza Ahmad Zahid ponpes Lirboyo dan Gus Zaki Hadzdik ponpes Tebu Ireng. Dari mereka bertiga, aku belajar tentang banyak hal. Mengembalikan kecintaanku pada Islam dan mengenal kembali NU, masuk ke dalam jiwa. 
Dan kali ini, aku akan bercerita tentang almarhum KH. Agus M.  Zaki Hazdik . Cucu langsung dari KH Hasyim Asy'ari. Meski aku baru mengenal beliau selama 6 tahun ini. Namun kami cukup instens berkomunikasi, untuk mendukung gerakan " Ayo Mondok", pesantrenku sehat, pesantrenku keren.

Sungguh, jika kita ngobrol Gus Agus Muhammad Zaki Hadziq, waktu terasa bergulir cepat. Dengan materi yang variatif. Tak kehabisan bahan dan ide. 40 persen ilmu, 30 persen tentang NU, 30 persen guyon bermutu tentang dunia pesantren.

Jujur, ini yang aku baru sadari didapatkan dari para kiyai dan gus di NU. "
Mengajar tanpa menghajar, mendidik tanpa bergidik, memberitahu tanpa memegang sapu". Agama Islam, menjadi agama yang penuh toleransi, ngga ruwet , simple dan santai.

Suatu saat , aku iseng tanya   pada beliau ( Gus Zaki)

Aku : Gus, sholat niku kenapa wajib sih, lima waktu, sehari. Belum lagi sholat sunnahnya. Capek lah. Sedikit dikit,  dijalan berhenti sholat. Apa ngga bisa dibuat simple. Diropple( didouble)  ae khan beres.

GZ: sholat itu sebetulnya ngga ruwet. Ruwetnya, karena  sholat tidak dijadikan kebutuhan. Orang butuh makan, tapi          "sayangnya" belum merasa butuh Sholat.

Mengapa? Karena orang sudah dapat "nikmatnya" makan, tapi belum dapat  "nikmatnya" sholat.

Sholat itu dinikmati. Bukan "diaboti" ( dibuat berat). Caranya? Dengan membayangkan besok mati. Pasti , kalau ingat mati, seluruh yang kita punya, jadi ora( tidak)  penting. Tidak berarti. Makan pun, sudah tak akan nikmat lagi. 
Seng onok mung roso takut kuatir wedi( yang ada hanya rasa takut  dan kuatir. Orang taat pasti ada rasa kuatir , amal belum cukup. Jika dibawa menghadap Alloh swt.

Dan sholat , akan jadi sarana paling nikmat.  Jika kita ingat akan mati dan kehidupan pasca kematian , yang abadi. 

Dan tidak ada yang ruwet tentang sholat.
Kalau ngga bisa sholat dengan berdiri ya duduk, ngga bisa duduk yang tidur. Kalau ngga bisa bergerak, ya dengan kedipan mata. Kalau ngga bisa dengan kedipan mata, yo disholati wong akeh( disholati orang banyak). 
Simple, sederhana. Trus ruwetnya dimana?

Pikiran dan hati kita sing nggawe ruwet dewe. Hidup ini mung guyonan. Hanya permainan saja. Jangan terlalu serius. Jangan gampang menjelekkan dan menyalahkan orang. Karena kebenaran itu milik Alloh. 

Dan  sesunguhnya Alloh itu Maha Guyon yang luar biasa. Karena hidup kita ini, hanya bagian dari permainan Alloh swt. Hanya kita tidak menyadarinya. Ibaratnya " Gusti Alloh itu, melihat kita sambil mesam mesem, melihat perilaku kita yang sok paling benar, paling hebat, paling bisa menyembunyikan sesuatu, paling segalanya. Pas digigit semut kecil saja, aduh aduhnya seperti langit mau runtuh. hehehe.."

(Aku tersenyum, sambil membayangkan diriku sendiri. Yang aslinya jadi dokter karena takut disuntik. Hehehe.)

Masya Alloh Tabarokalloh. Itulah sebagian kecil dari ceritaku dengan guru guyon gayeng almarhum Gus Zaki. Isinya canda tawa berkelas lazimnya humor gaya pondokan. Aku selalu diajak menertawakan diri sendiri.

Gus Zaki adalah sosok yang "grapyak-semanak", pendengar yang baik, dan pembicara yang asyik. Tapi  terampil mengambil hikmah/ibrah dari peristiwa sederhana lalu diulas dengan ilmu.
Namun beliau lebih sering menyampaikan melalui lisan , dengan cara yang asyik.

Kalau sudah pernah ngobrol dengan Gus Zaki, biasanya selalu berkisah tentang kesederhanaan orang biasa yang punya pemikiran dan perbuatan luar biasa. Orang kecil dengan kontribusi besar. Banyak juga tulisan beliau di FB tentang pelajaran hidup.

Selain humor, salah satu ciri khas lain Gus Zaki adalah tawadlu’-nya. Dari caranya berpakaian, bertutur kata, serta gesturnya saat mendengarkan orang lain berbicara, sudah tampak gambaran sikap yang nguwonge-wong. 

Aku dan para sahabat mengenang Gus Zaki dengan kesederhanaan, kerendahan hati juga  semangatnya dalam berkhidmah di NU dan dunia pesantren.  Dan tentu saja berbagai humornya.

Sugeng tindak Guru kami juru laden NU!
Alloh swt pasti sedang memberi kesempatan panjenengan guyon kaliyan Kanjeng Nabi SAW.

Nikmatnya panjenengan sakmeniko Gus!

Allohumma Sholli Ala Muhammad

Negeri gurindam XII, 08.07.2020
DokterGeJe 
Juru mantri laden RMI NU

Posting Komentar

0 Komentar