Artikel Terbaru

header ads

Pemimpin NU Haruslah Berkarakter "Cah Angon"

Pemimpin NU Haruslah Berkarakter "Cah Angon"

Pemimpin NU harus memiliki karakter "Cah Angon". Pernyataan ini disampaikan oleh KHR Azaim Ibrahimy, Dzuriyah KH As'ad Syamsul Arifin. Hal ini dirujukkan pada peristiwa saat KH As'ad Syamsul Arifin menyampaikan tongkat dari KH Khalil Bangkalan kepada KH Hasyim Asy'ari. Setelah menerima tongkat tersebut, KH Hasyim Asy'ari bersyukur, bahwa tongkat tersebut adalah isyarah diizinkannya beliau mendirikan Jam'iyah Ulama. Hal ini disampaikan oleh KHR Azaim Ibrahimy di hadapan peserta Daurah Santri Muassis yang diselenggarakan PW RMI NU Jatim di pesantren Siwalan Panji, Sidoarjo pada tanggal 1 Februari 2020.

Penyerahan tongkat tersebut disertai bacaan Surat Thaha ayat 17-21. Ayat ini mengisahkan tentang nabi Musa dan tongkatnya untuk menggembala dan keperluan lainnya. Ayat ini juga memberi isyarat bahwa karakter nabi Musa sebagai penggembala menjadi contoh untuk kepemimpinan. Dalam bahasa Jawa, penggembala adalah "Cah Angon". Seorang penggembala dituntut mampu menjaga keamanan, kesejahteraan yang digembala. Ia juga harus memberi arah, ke mana tujuan untuk mencari makan, kapan dan ke mana harus pulang. Penggembala harus mampu menjaga batas makanan yang dibolehkan dan dilarang. Tidak sembarangan makanan boleh diambil. Jika itu milik orang lain, maka penggembala harus bertanggungjawab.

Karakter sebagai " Cah Angon" harus dimiliki oleh pemimpin NU. Saat surat ini dibacakan oleh KH As'ad Syamsul Arifin kepada KH Hasyim Asy'ari, maka Mbah Hasyim bersyukur, sebagai isarat dibolehkannya beliau mendirikan Jam'iyah Ulama, organisasi ulama. Sebab sosok yang digambarkan pada ayat tersebut adalah Nabi. Maka hanya pewaris nabilah yang dibolehkan melanjutkan tugas sebagai "Cah Angon", yakni para ulama.

KHR Azaim Ibrahimy juga menyinggung bahwa soal " Cah Angon" sudah lama ditembangkan dalam lagu Jawa karya Walisanga, dalam tembang Lir Ilir, dimana tugas "Cah Angon" adalah memanjat pohon belimbing, meski licin (lunyu-Jawa). Tugas mengenalkan dan menyebarkan Islam adalah tugas ulama, dengan karakter "Cah Angon" seperti Nabi Musa, yang sangat teguh dalam Syariat sehingga bisa dijadikan teladan oleh umat.

Posting Komentar

0 Komentar