Artikel Terbaru

header ads

Santri dan Filosofi Sarung

Santri dan Filosofi Sarung

Santri dan sarung tidak bisa dipisahkan. Santri, hampir semua suka memakai sarung. Apalagi mereka yang masih mondok di pesantren, hampir dipastikan pakaian wajibnya adalah sarung.

Gus Melvin Zainul Asyiqin, wakil ketua RMI NU Jawa Timur menjadikan filosofi sarung sebagai hal yang penting untuk jadi pegangan para santri. "Jika angin menghempas sarung ke arah selatan, maka sarung juga akan ke selatan, demikian jika ke utara, timur atau barat", demikian tutur Gus Melvin dalam sebuah sesi di Daurah Santri Muasis NU di Pesantren Siwalan Panji. 

Ibarat santri yang hidup di tengah masyarakat. Santri harus mempu mengikuti arah perkembangan masyarakat di mana ia hidup dan tinggal. Jika masyarakat menghendaki ke utara, maka santri harus mampu mendampingi ke utara. Santri tidak boleh ketinggalan dari perubahan dan perkembangan masyarakatnya.

Untuk itu ada hal yang jauh lebih utama. Dengan canda Gus Melvin menyampaikan bahwa yang  sangat bernilai adalah maa fii sarung (apa yang ada dalam sarung). Maksud dari hal ini adalah nilai Ahlussunnah wal jama'ah, yang tersimpan di hati para santri. 

Santri akan menemani masyarakat dilandasi spirit dan pedoman Ahlussunnah wal jamaah. Apakah masyarakat hendak mengembangkan ekonomi, teknologi atau pendidikan, santri akan selalu menemani dengan spirit yang terjaga di hati mereka, layaknya maa fii sarung.

Posting Komentar

0 Komentar