Artikel Terbaru

header ads

Mata Bathin Mbah Hamid Chasbullah pada Tiga Santri Kalong



MATA BATIN MBAH HAMID CHASBULLAH PADA TIGA SANTRI KALONG
Oleh: Gus Ainur Rafiq Al Amin

Saat itu saya takziah ke tetangga yang meninggal. Saya ikut mengantar jenazahnya ke pemakaman. Sambil menunggu proses penguburan, tiba-tiba saya didatangi lelaki 73-an tahun dengan wajah masih nampak segar. Namanya Pak Abdul Manan,  pekerjannya  sebagai montir mobil, rumahnya Gedang, Tambakrejo, Jombang. Beliau biasa dipanggil Mbah Dul.

Mbah Dul  bertanya, "Gus Syifak, jenengan menangi (menemui) Mbah Hamid?  Tentu batin saya kaget,  saya yang muda ini kok ditanya begitu. Lalu saya jawab,  "Ya tidak, saya lahir tahun 1977, sedang Mbah Hamid meninggal pada tahun 1956. Jadi jaraknya jauh. Mbah Hamid itu meninggalnya lebih dulu dari kakaknya, Mbah Wahab Chasbullah.

Setelah mengangguk dan agak tertegun dengan penjelasan saya, Mbah Dul berkisah bahwa dia termasuk murid atau santri Mbah Hamid. Setiap malam mengaji Alqur'an ke Mbah Hamid di Masjid Pondok.

Dia bilang, "Saya ingat betul mengajinya memakai meja bundar yang ada di masjid pondok itu. Teman ngaji saya antara lain Haji Jamal beras, Haji Aini. Kita bertiga berasal dari kampung sini. Lainnya santri-santri yang mondok dan santri kalong dari kampung lain."

Mbah Dul melanjutkan, "Mbah Kiai Hamid tekun menyimak satu persatu bacaan Alquran saya dan teman-teman, meskipun saya termasuk masih kecil. Beliau telaten mengajari saya."

Selain memuji ketelatenan mengajarnya, Mbah Dul juga mengingat pemurahnya Mbah Kiai Hamid yang memberi jajan, terkadang berkat, lain waktu diberi makan lengseran ala santri. Mbah Dul menandaskan, "Satu yang saya tidak bisa lupa, Mbah jenengan (Mbah Hamid)  itu tajam mata batinnya."

Dulu sewaktu mengaji bersama dengan  Pak Jamal beras dan Pak Aini, Mbah Kiai Hamid syukuran. Tiga santri ini diberi makan lengseran. Sambil guyon Mbah Hamid  menyuruh tiga anak-anak itu agar menghabiskan nasi. Sambil dibilangi kalau tidak habis, bukan santri.  Akhirnya tiga anak ini semakin lahab menghabiskan makanan.

Selesai makan sambil melihat wajah satu persatu dari tiga anak itu,  Mbah Hamid berkata kepada  Aini, "Kamu nanti cepat hajinya." Selanjutnya Mbah Kiai Hamid melihat wajah Jamal beras dan berkata,  "Kamu besok juga bisa haji,  tapi agak lama." Saat giliran pada Mbah Dul,  beliau berkata,  "Kamu nampaknya tidak bisa haji,  tapi usiamu panjang dan hidupmu bermanfaat."

Mbah Dul melanjutkan ceritanya,  "Itu Gus,  kata-kata  Mbah Kiai Hamid yang sampai sekarang tidak bisa saya  lupa. Saya ceritakan ke jenengan ini bukan karena apa-apa,  tapi karena jenengan cucunya Mbah Hamid.  Dan masya Allah,  saya ingat-ingat,  ternyata dawuh Mbah Hamid terbukti semua. Namanya Aini jenengan tahu, dia terkenal kaya dan pergi haji paling awal. Terus Jamal beras, siapa sangka akhirnya juga pergi haji meskipun dalam usia tua. Lalu sampai sekarang satu-satunya yang masih hidup di antara kedua teman tadi adalah saya. Saya angan-angan terus dawuh Mbah Kiai Hamid ternyata cocok semua. Saya yang paling panjang umurnya daripada kedua teman saya,  dan kedua teman saya sudah wafat dan sama-sama sudah pergi haji."

Demikian sekelumit kisah tentang Mbah Kiai Hamid dari murid yang tersisa.. Wallohu a'lam bissowab. Kita bacakan Alfatehah untuk Mbah Hamid Chasbullah.

Kisah dari Gus Syifak Malik,  saya olah tanpa mengurangi substansi kisah.
*****

Mbah Hamid Chasbullah wafatnya menurut catatan santri beliau yang lain,  yakni KH Ilham Machal (karib Gus Dur) dalam kitab Iqna'nya adalah hari Kamis, 8 Ramadhan 1375 pukul 06.50 atau 18 April 1956.

Tanggal masehinya kalau menurut hitungan konversi berbeda satu hari,  yakni 8 Ramadhan 1375 atau 19 April 1956.
****


Posting Komentar

0 Komentar