Artikel Terbaru

header ads

Bulan Sya'ban dan Tradisi Ziarah

Bulan Sya’ban diyakini oleh umat Islam sebagai salah satu bulan yang istimewa. Sebab di dalamnya terjadi banyak peristiwa fenomenal yang menentukan kehidupan manusia. Di antara peristiwa itu misalnya adalah perubahan arah kiblat umat Islam dari Masjidil Aqsa di Baitul Maqdis, Palestina, ke Ka’bah di Masjidil Haram, Makkah. Di dalamnya juga terjadi peristiwa laporan amal perbuatan manusia kepada Allah Swt.

Dalam tradisi Jawa kuno, bulan Sya’ban ini dikenal dengan istilah bulan Ruwah atau bulan arwah. Sesuai dengan mananya, bulan ini dijadikan sebagai momentum untuk mengingat dan menghormati para leluhur yang sudah meninggal dunia. Mereka melakukan ritual-ritual tradisi yang sangat naluriah dan manusiawi untuk memuliakan orang-orang tua pendahulunya dengan mengunjungi makam, membersihkan bahkan berdoa bersama di makam keluarga. Diantara tradisi ruwahan yang biasa dilakukan adalah besik, kenduri dan megengan serta nyadran. 

Besik adalah membersihkan makam. Kegiatan ini dilakukan baik secara gotong-royong di makam kampung ataupun bersama keluarga di makam keluarga. Rumput liar atau apapun yang terlihat mengganggu pemandangan akan dibersihkan sehingga pada bulan Ruwah ini makam-makam akan terlihat bersih dan tidak terasa angker atau menakutkan karena dibersihkan oleh sanak keluarga dan keturunan mereka yang sudah meninggal dunia. 

Setelah itu, pada tanggal yang sudah ditentukan di tiap makam atau kampung, warga melakukan tahlilan bersama di halaman makam dengan membawa makanan maupun hasil bumi untuk dibagikan atau dimakan bersama-sama di halaman makam. Tradisi ini disebut dengan Nyadran. Nyadran adalah kegiatan makan bersama di dekat pemakaman setelah dibacakan doa bersama yang dipimpin oleh kepada suku atau kyai. Pada momentum ini, biasanya semua anggota keluarga akan hadir untuk berziarah ke makam leluhur dan bersilaturahim dengan sanak keluarga.

Tradisi yang sudah dilakukan sebelum Islam datang ini, dalam pelaksanaannya telah banyak mengalami banyak perubahan utamanya dalam relasinya dengan prinsipprinsip ajaran Islam. Pada awalnya mengirim makanan sebagai sesaji untuk para roh diganti dengan sedekah dan berkirim doa kepada keluarga yang sudah meninggal.


Posting Komentar

0 Komentar