Artikel Terbaru

header ads

Syair Fathul Qarib

Penulis bersama KH Mas Alwi Darajatin

Oleh: Ahmad Firdausi *)

Hampir semua pondok pesantren dalam mengajarkan ilmu tauhid menjadikan Kitab Aqidatul Awam sebagai salah satu referensinya. Bahkan kitab ini wajib dihapalkan oleh para santri. Kitab ini disusun oleh al-Syaikh Ahmad al-Marzuqi al-Maliki al-Makki. Seorang Ulama Agung yang dilahirkan di Mesir kemudian menjadi pengajar di Makkah sekaligus sebagai mufti madzhab Maliki.


Kitab Aqidatul Awam yang berisikan nadham (syair) telah menarik perhatian ulama-ulama lainnya untuk menyusun kitab komentar (syarh) atasnya. Beberapa diantaranya: Nurudh Dhalam ala Mandhumah Aqidatul Awam karya Syaikh Nawawi al-Bantani, Tashil al-Maram li-Daarisil Aqidatil Awam gubahan Syaikh Ahmad al-Qaththa’aniy al-‘Aysawiy dan Tahshil Nail al-Maram Libayani Mandhumah Aqidatul Awam yang disusun sendiri oleh al-Syaikh Ahmad al-Marzuqi al-Maliki al-Makki. Selain ketiga kitab tersebut, ada kitab Jala’ul Afham Syarh Aqidatul Awam yang dikumpulkan oleh Kyai Ihya’ Ulumuddin (Pengasuh Pondok Pesantren Nurul Haramain Pujon Kota Batu) dari pengajian guru beliau Abuya Sayyid Muhammad bin Alawi al-Maliki al-Hasani.

Dalam kitab Jala’ul Afwan dikisahkan bahwa al-Syaikh Ahmad al-Marzuqi dalam suatu kesempatan bermimpi berjumpa Rasulullah dan para sahabatnya sedang mengelilingi al-Syaikh Ahmad al-Marzuq.  Dalam mimpi itu Rasulullah berkata: “bacalah syair tauhid. Jika seseorang menghafalnya maka akan masuk surga dan akan mendapatkan kebaikan sesuai dengan al-qur’an dan al-hadits.”

Al-Syaikh Ahmad al-Marzuqi merespon bahwa beliau tidak mengetahui syair itu seperti apa. “Dengarlah apa yang diajarkan Rasulullah”, seru para sahabat. Rasulullah kemudian melantunkan syair demi syair dan al-Syaikh Ahmad al-Marzuqi seketika menghafalnya secara utuh dari awal hingga akhir.

Singkat cerita, kitab Aqidatul Awam disusun al-Syaikh Ahmad al-Marzuqi atas bimbingan langsung Rasulullah. Bimbingan ini didapatkan saat tidur dan begitu terjaga syair-syair yang telah dihafal kemudian ditulis dari yang hanya berjumlah 26 bait sampai menjadi 57 bait.

*****
Apa yang dialami oleh al-Syaikh Ahmad al-Marzuqi al-Maliki al-Makki bukanlah hal yang asing di dunia pondok pesantren. Kisah-kisah al-alim allamah dengan Pengalaman spiritualitas sejenis sering dijumpai dalam khazanah pondok pesantren. Berjumpa dengan Rasulullah, Ulama-Ulama terkasih atau Kyai/Guru yang telah menggoreskan catatan penting dalam pengembaraan intelektualitas dan spiritualitas seseorang.

Adalah Kyai Mas Alwi Darajatin. Seorang kyai sederhana asal kompleks pondok pesantren Sidoresmo Dalam. Beliau mewakafkan hidupnya untuk mengabdi sebagai pendidik di Pondok Pesantren At-Tauhid Sidoresmo yang didirikan oleh KH. Mas Thalhah Abdullah Sattar. Kepala Madrasah Diniyah adalah amanah  yang harus Kyai Mas Alwi pikul dengan penuh tanggung jawab.

Dedikasi tanpa batas ini karena beliau merasa sebagai santri Kyai Mas Thalhah. Kapasitas keilmuan dan spiritualitas banyak dibentuk dan dipengaruhi oleh Kyai Mas Thalhah. Relasi batin yang tertaut kuat ini mengantarkan kedekatan beliau berdua tidak hanya secara fisik, tetapi juga non-fisik. Kyai Mas Alwi seringkali berkisah kepada penulis tentang besarnya pengaruh Kyai Mas Thalhah atas diri beliau. Sering dijumpai Kyai Mas Thalhah dan mendapatkan nasehat melalui mimpi.

Penulis saat sowan kepada KH Mas Alwi Darajatin dan Keluarga
Dalam suatu kesempatan sowan, Kyai Mas Alwi bercerita kalau sedang menulis kitab Nadham Fathul Qarib. Kitab Fathul Qarib atau lengkapnya Fathul Qarib al-Mujib fi Syarhi Alfadzi al-Taqrib adalah kitab fiqih bermadzhab syafi’i yang ditulis oleh al-Imam Syamsuddin Abu ‘Abdillah Muhammad bin Qosim Al-Ghozi. Kitab ini adalah literatur wajib dalam bidang fiqih yang hampir seluruh pondok pesantren mengajarkannya, merupakan komentar (syarh) atas kitab al-Taqrib yang ditulis oleh al-Imam Ahmad bin Husein bin Ahmad al-Asyfahaniy yang terkenal dengan panggilan al-Qadhi Abu Syuja’.

Nadham Fathul Qarib? Batin saya dalam hati. Saya membayangkan akan ada ribuat bait syair dan menuliskannya merupakan hal yang tidak mudah. Meskipun dengan kapasitas keilmuan yang dimiliki oleh Kyai Mas Alwi tentu hal ini tidaklah mustahil beliau lakukan. Kyai Mas Alwi dikenal sebagai sosok yang ahli dibidang sastra Arab. Berbagai disiplin ilmu dalam rumpun sastra Arab beliau kuasai tanpa cela. Balaghah dan alfiyah ibn Malik adalah mata pelajaran yang beliau ampu. Selain itu, Kyai Mas Alwi dikenal sebagai pribadi yang lembut tutur katanya, bahasanya runtut, dan nangisan. Kok nangisan? Ya! Beliau selalu menangis saat berkisah tentang Rasulullah Muhammad SAW.

“MasyaAllah, Kyai. Luar biasa jika kitab Nadham Fathul Qarib ini dapat segera selesai”, matur saya kepada beliau. “Aku hanya menulis. Yang mengarang adalah Kyai Mas Thalhah”, respon beliau. Kok bisa? Bukankah Kyai Mas Thalhah telah lama meninggal dunia? Berbagai pertanyaan sejenis yang menandakan keheranan segera mencuat dalam hati.

“Suatu ketika aku duduk di teras rumah ini. Terus hilang kesadaran. Aku merasa berjumpa dengan Kyai Mas Thalhah. Mengajarkanku Nadham Fathul Qarib. Setelah sadar, aku segera ambil kertas dan menuliskannya. Seringkali Kyai Mas Thalhah hadir dalam mimpi. Aku belajar langsung kepada beliau. Begitu seterusnya sampai saat ini telah ada 600an nadham. Kyai Mas Thalhah yang mengarang kitab ini, aku hanya menulis apa yang beliau dawuhkan.”, pungkas Kyai Mas Alwi. “Ini belum selesai. Buat kamu”, lanjut Kyai Mas Alwi sambil menyerahkan buku bersampul hijau. Saya terima dan cium tangan beliau sebagai tanda menerima.

*****
Pada Januari 2018 saya mendapat khabar bahwa Kyai Mas Alwi akan melaksanakan ibadah umroh. Saya pun menyempatkan untuk hormat keberangkatan beliau. Dalam perjumpaan itu beliau bercerita bahwa penulisan kitab Nadham Fathul Qarib telah selesai. Beliau tidak ingat pasti berapa jumlah nadham-nya. Lebih dari seribuan.

“Alhamdulillah, sudah selesai”, cerita beliau. “seperti mimpi bisa berangkat umroh sowan Kanjeng Nabi”. Umroh ini juga sebagai wujud ungkapan syukur atas selesainya penulisan kitab Nadham Fathul Qarib.

*****
Sepulang umroh, berlahan kesehatan beliau menurun. Tanggung jawab sebagai Kepala Madrasah Diniyah masih beliau laksanakan. Saat santri sedang ikhtibar, beliau masih menyempatkan untuk mengawasi secara langsung.

Pada saat kesehatan beliau semakin menurun, Kyai Mas Mansur Thalhah (Pengasuh Pondok Pesantren At-Tauhid, Putra Kyai Mas Thalhah) memerintahkan kepada keluarga beliau untuk mengantarkan Kyai Mas Alwi ke RSI Jemursari. Tetapi sampai di RSI Jemursari, beliau harus dirujuk ke RSUD Dr. Soetomo. Kyai Mas Alwi menolak. “Kyai Mas Mansur meminta saya ke RSI Jemursari, bukan ke RSUD Dr. Soetomo. Harus izin beliau dulu”. Masya Allah, sungguh teladan atas ta’dhim yang luar biasa kepada dzurriyah kyai atau guru.

Saya berkesempatan sowan Kyai Mas Alwi di RSUD Dr. Soetomo. Selalu beliau meminta maaf kepada siapa saja yang dating membesuk beliau. Menolak dipasang kateter karena tidak ingin jika sewaktu-waktu dipanggil Sang Khaliq beliau sedang dalam kondisi membawa najis.

Juni 2018, dipenghujung Ramadhan, Kyai Mas Alwi Darajatin menghadap Sang Khaliq. Berita meninggalnya beliau saya terima saat perjalanan mudik idul fitri menuju Jogjakarta. Terasa sesak. Air mata tak terbendung. Rasa sesal karena tidak bisa memberikan penghormatan saat pemakaman beliau.

Saat ini, Kitab Nadham Fathul Qarib selalu dirapal oleh santri-santri Pondok Pesantren at-Tauhid Sidoresmo. Kitab ini menambah kekayaan khazanah intelektual pondok pesantren.
Untuk Kyai Mas Thalhah dan Kyai Mas Alwi, al-fatihah….

*) Santri Pondok Pesantren At-Tauhid Sidoresmo;Sekretaris PW Rabithah Ma’ahid Islamiyah Jawa Timur



Posting Komentar

1 Komentar