Artikel Terbaru

header ads

Mengenal Peci, Kopyah dan Songkok


Peci merupakan alat penutup kepala bagi kaum laki-laki yang berciri khas Nusantara yang terbuat dari kain, bahan beludru atau bahan lain dan dibuat meruncing kedua ujungnya. Sebutan lainnya adalah kopiah atau songkok. Sementara oleh masyarakat di belahan Dunia lain, kopiah atau peci itu dikenal dengan nama Kufi, taqiyat, topi fez/fezzi, tarboosh, songkok, dan lain-lain. Meskipun ketiganya berfungsi sebagai penutup kepala akan tetapi asal usulnya berbeda. Peci yang di jaman Belanda ditulis “Petje” berasal dari kata “pet” (topi) dan “je” yang mengesankan “sesuatu yang kecil” di mana biasa dikenakan oleh bangsa Melayu.
Ada pula penjelasan yang mengidentikkan Peci dengan topi fez atau fezzi yang berasal dari Yunani Kuno dan diadopsi oleh Kerajaan Turki Utsmani. Terdapat pula keterangan bahwa Peci merupakan rintisan dari Sunan Kalijaga yakni berupa Kuluk yang memiliki bentuk lebih sederhana daripada Mahkota dan disematkan pada saat pengukuhan Raden Patah/Sultan Fattah diangkat menjadi Sultan Demak. Bahkan ada juga yang mengaitkan Peci dengan tutup kepala yang dipakai Laksamana Ceng Ho. Dalam bahasa China, “Pe” artinya delapan dan “Chi” artinya energi, sehingga Pechi merupakan alat untuk menutup bagian tubuh yang bisa memancarkan energinya ke delapan penjuru arah angin.
Sedangkan Kopiah diadopsi dari bahasa Arab, Kaffiyeh atau Kufiya. Namun wujud asli Kaffiyeh berbeda dengan kopiah. Di Timur Tengah, Kaffiyeh yang memiliki nama lain Ghutra atau shemagh merupakan kain penutup kepala berbentuk persegi yang dibuat dari bahan katun dan dikenakan dengan cara dilipat pada bagian tengah menjadi berbentuk seegitiga. Kaffiyeh biasa dikenakan bersama dengan Taqiyah atau topi kecil berwarna putih yang dikenakan sebagai dalaman serta dengan cara memasang Igal atau tali berwarna hitam untuk menahan Kaffiyeh agar tidak lepas.
Dengan kata lain pemadanan kata Kopiah dengan Kaffiyeh tidak menunjukkan bentuk barang yang sama. Ada pula yang mengaitkan Kopiah dengan filosofi “Kosong di-Pyah” artinya kosong dibuang yang mengandung makna kebodohan dan rasa dengki harus dibuang dari isi kepala manusia. Sementara Songkok dalam bahasa Inggris dikenal istilah skull cap atau batok kepala topi, sebutan oleh Inggris bagi penggunanya di Timur Tengah. Di wilayah Indonesia atau Melayu yang sempat dijajah Inggris, kata tersebut mengalami metamorfosa pelafalan menjadi skol kep menjadi song kep dan akhirnya menjadi songkok. Ada pula yang menganggap Songkok dari singkatan “Kosong dari Mangkok” yang artinya kepala ini seperti mangkok kosong yang harus diisi dengan ilmu pengetahuan.
Secara umum Peci, Kopiah, dan Songkok menjadi identitas orang Islam yang pada mulanya dikenalkan oleh para pedagangpedagang Arab dan India. Sebab, masyarakat pribumi dahulunya lebih mengenal ikat kepala, semacam blangkon. Akan tetapi, seperti biasanya, proses transformasi budaya luar kedalam budaya Nusantara selalu menghasilkan adapsi dan asimilasi yang unik; sehingga terciptalah Peci, Kopiah, dan Songkok khas Nusantara.
Sebagai identitas Muslim Nusantara, Peci, Kopiah, dan Songkok dikenakan khususnya para haji dan santri. Sementara kiai, ajengan, atau abuya dibedakan dengan penambahan atrubut berupa serban/surban yang dipakai pada saat-saat tertentu, misalnya sewaktu shalat, pengajian, dan lainnya. Kebiasaan ini, menurut Snouck Hurgronje, dijadikan bukti bahwa para haji di Indonesia tidak terpengaruh dengan cara berpakaian orang Arab karena mereka sudah memiliki tradisi tersendiri. Orang-orang Indonesia sekembalinya pergi haji justru dianggap aneh jika kesehariannya memakai Peci, Kopiah, dan Songkok berikut serban/surban. Mereka umumnya lebih suka memakai peci atau pengikat kepala sejenis blangkon.
Di samping sebagai identitas, pemakaian Peci, Kopiah, dan Songkok oleh para haji dan santri juga menjadi perlambang kerendahan hati mereka. Sebab membuka kepala sama artinya seseorang bermaksud menunjukkan kegagahannya, sedangkan menutup kepala sama dengan menjaga marwahnya. Seseorang yang menutupi kepalanya dengan Peci, Kopiah, dan Songkok berarti ia dapat memelihara muru’ah-nya.
Sekalipun demikian, dalam perkembangannya, Peci, Kopiah, dan Songkok khas Nusantara juga dijadikan sebagai simbol nasionalisme pada saat berhadapan dengan bangsa Eropa. Kiai Sholeh Darat memasukkan misi perlawanan kepada penjajah Hindia Belanda dalam Kitab Majum’at al-Syari’at al-Kifayat li ‘awam (1309 H/1892 M), dengan menganjurkan bangsa pribumi Islam mengenakan peci dan atribut lain yang bisa membedakannya dengan kaum penjajah. Ia mengingatkan: “Barangsiapa ikut-ikutan dengan sesuatu maka ia termasuk golongannya” (man syabbaha sya’an syubbiha ‘alaih). Sebab pada waktu itu banyak orangKopiah/songkok biasa dikenakan para santri di pesantren.
Sebagai identitas Muslim Nusantara, Peci, Kopiah, dan Songkok dikenakan khususnya para haji dan santri. Sementara kiai, ajengan, atau abuya dibedakan dengan penambahan atrubut berupa serban/surban yang dipakai pada saat-saat tertentu, misalnya sewaktu shalat, pengajian, dan lainnya. Kebiasaan ini, menurut Snouck Hurgronje, dijadikan bukti bahwa para haji di Indonesia tidak terpengaruh dengan cara berpakaian orang Arab karena mereka sudah memiliki tradisi tersendiri. Orang-orang Indonesia sekembalinya pergi haji justru dianggap aneh jika kesehariannya memakai Peci, Kopiah, dan Songkok berikut serban/surban. Mereka umumnya lebih suka memakai peci atau pengikat kepala sejenis blangkon.
Di samping sebagai identitas, pemakaian Peci, Kopiah, dan Songkok oleh para haji dan santri juga menjadi perlambang kerendahan hati mereka. Sebab membuka kepala sama artinya seseorang bermaksud menunjukkan kegagahannya, sedangkan menutup kepala sama dengan menjaga marwahnya. Seseorang yang menutupi kepalanya dengan Peci, Kopiah, dan Songkok berarti ia dapat memelihara muru’ah-nya. Sekalipun demikian, dalam perkembangannya, Peci, Kopiah, dan Songkok khas Nusantara juga dijadikan sebagai simbol nasionalisme pada saat berhadapan dengan bangsa Eropa. Kiai Sholeh Darat memasukkan misi perlawanan kepada penjajah Hindia Belanda dalam Kitab Majum’at al-Syari’at al-Kifayat li ‘awam (1309 H/1892 M), dengan menganjurkan bangsa pribumi Islam mengenakan peci dan atribut lain yang bisa membedakannya dengan kaum penjajah. Ia mengingatkan: “Barangsiapa ikut-ikutan dengan sesuatu maka ia termasuk golongannya” (man syabbaha sya’an syubbiha ‘alaih). Sebab pada waktu itu banyak orangKopiah/songkok biasa dikenakan para santri di pesantren. Orang pribumi yang meniru gaya berbusana orang-orang Eropa, seperti memakai pentolan, jas, dasi, dan topi. Padahal sebagimana disabdakan Rasulullah Saw: Laysa minna man tasyabbah bi ghair minna (Tidak termasuk ummatku orang yang meniru golongan selain aku).
Pandangan serupa juga dikemukakan Sayyid Utsman al-Batawi --seorang mufti Betawi- dalam Kitab al-Qawanin al-Syar’iyyah li Ahl al-Majalis al-Hukmiyyat wa al-Ifta’iyyat (1883 M). Ia mengkritik pegawai-pegawai bangsa pribumi di kantor-kantor pemerintah Belanda yang mengenakan pakaian serupa yang dikenakan orang-orang Belanda. Orangorang pribumi di kantor pemerintah saat itu melepas peci sebagai penutup kepala dengan diganti topi dan mengenakan baju berdasi agar dianggap sebagai bagian pegawai pemerintahan.
Pengaruh fatwa ulama Indonesia ini berpengaruh besar terhadap pemakaian Peci, Kopiah, dan Songkok, serta blangkon. Sebab yang merasa menjadi orang pribumi akan menggunakannya, sekalipun mereka bukan santri ataupun sudah pergi haji. Dari situlah bermunculan tokoh-tokoh pejuang yang selalu menggunakan Peci, Kopiah, dan Songkok sebagai ikon nasionalisme, yang diantaranya adalah Soekarno. Pada pertemuan Jong Java di Surabaya pada Juni 1921, Soekarno untuk pertamakali mengenalkan diri sebagai pemuda berpeci, sekalipun mulanya ia khawatir ditertawakan sahabat-sahabatnya. Ia berkata di hadapan teman-teman seperjuangannya: “Kita memerlukan lambang daripada kepribadian Indonesia. Peci dipakai oleh pekerja-pekerja bangsa Melayu, dan itu asli kepunyaan rakyat kita.”
Sampai sekarang, penggunaan Peci, Kopiah, dan Songkok tidak dibatasi untuk orang Islam dan tidak sekedar dipakai untuk acara peribadatan saja. Peci, Kopiah, dan Songkok juga dipakai dalam acara resmi seperti pertemuan-pertemuan kenegaraan oleh kalangan dan tokoh yang agamanya nonMuslim sekalipun. Hal ini dikarenakan Peci, Kopiah, dan Songkok sudah menjadi identitas nasional.

Sumber: Buku “Ensiklopedi Islam Nusantara”

Posting Komentar

0 Komentar