Artikel Terbaru

header ads

Mengenal Bahtsul Masa'il di NU

Beberapa waktu lalu, ramai pihak yang menolak hasil Munas dan Konbes NU 2019 di Kota Banjar, Jawa Barat. Mereka mempermasalahkan salah satu hasil Bahtsul Masa'il pada acara tersebut. Untuk memahaminya, tentu perlu mengetahui tentang Bahtsu Masa'il itu sendiri.

Apa Itu Bahtsul Masa'il?

Bahtsul Masail adalah frase dalam Bahasa Arab dalam bentuk susunan idlafah, yang terdiri dari kata "bahts" yang berarti pembahasan atau pencarian sebagai mudlaf (kata yang disandarkan) dan kata "al-masail" yang berarti masalah-masalah sebagai mudlaf ilaihi (kata yang disandari). Frase ini secara singkat dalam Bahasa Indonesia dapat dimaknai sebagai pembahasan masalah-masalah. Sedangkan secara lebih lengkap frase "Bahtsul Masail (بحث المسائل) berasal dari kalimat "al-bahtsu 'an ajwibati al-masail ( البحث عن أجوبة المسائل )" yang artinya adalah pencarian, penelitian dan pembahasan tentang jawaban dari berbagai masalah. Bahtsul masail menurut Kiai Sahal Mahfudh adalah ganti dari istilah istinbath dan ijtihad di lingkungan NU. Mengutip pendapat KH Sahal Mahfudh, menyebutkan bahwa bahtsul masail tidak berbeda dengan istinbath (pengambilan hukum) atau ijtihad. Karena kedua istilah tersebut cenderung “wah”  di lingkungan pesantren NU, maka kemudian digunakan istilah bahstul masail.

Bahtsul Masail di lingkungan organisasi NU berasal dari tradisi diskusi atau musyawarah untuk mencari jawaban dalam rangka menyelesaikan persoalan yang ditanyakan oleh anggota masyarakat kepada para kyai. Tradisi para kyai pesantren ini otomatis juga diikuti dan dipraktekkan oleh para santri di banyak pondok pesantren khas Indonesia.

Bahtsul Masail ini sudah sejak lama diorganisir oleh para pengurus NU dengan membentuk Lembaga Bahtsul Masail (LBM) yang sebelumnya diberi nama Lajnah Bahtsul Masail. LBM ini semacam lembaga fatwa keagamaan yang bersifat kolektif, sehingga pertanyaan atau masalah yang diajukan kepada LBM dijawab secara kolektif atau bersama-sama oleh para ahlinya yang umumnya terdiri dari para kyai dan para spesialis ilmu yang terkait dengan permasalahan yang dibahas. Pertanyaan dalam Bahtsul Masail selalu diupayakan jawabannya secara bersama-sama karena untuk lebih mendekati titik kebenaran bila dibandingkan dengan menjawabnya secara personal atau individual, sebagaimana kini banyak dilakukan oleh penceramah zaman now yang menjawab semua pertanyaan selalu secara spontan dan tergesa-gesa. 

Permasalahan yang dibahas dalam Bahtsul Masail sangatlah beragam, namun secara global dapat disebut sebagai al-masail al-ijtihadiyyah (masalah-masalah yang bersifat ijtihadiyah, yakni untuk mencari solusinya memerlukan kesungguhan yang paling maksimal). Tetapi untuk memudahkan PBNU telah mengklasifikasi permasalahan yang didiskusikan itu terdiri dari beberapa kategori antara lain Bahtsul Masail al-Waqi'iyyah (pembahasan masalah-masalah aktual yang telah atau sedang terjadi), Bahtsul Masail al-Maudlu'iyyah (pembahasan masalah-masalah yang bersifat tematik), Bahtsul Masail al-Qanuniyyah (pembahasan masalah-masalah yang berkaitan dengan perundang-undangan).

Sejarah Bahtsul Masa'il

Di kalangan Nadlatul Ulama, Bahtsul Masail merupakan tradisi intelektual yang sudah berlangsung lama. Sebelum Nahdlatul Ulama (NU) berdiri dalam bentuk organisasi formal (jam’iyah), aktivitas Bahtsul Masail telah berlangsung sebagai praktek yang hidup di tengah masyarakat muslim nusantara, khususnya kalangan pesantren. Hal itu merupakan pengejawantahan tanggung jawab ulama dalam membimbing dan memandu kehidupan keagamaan masyarakat sekitarnya.

NU kemudian melanjutkan tradisi itu dan mengadopsinya sebagai bagian kegiatan keorganisasian. Bahtsul Masail sebagai bagian aktivitas formal organisasi pertama dilakukan tahun 1926, beberapa bulan setelah NU berdiri. Tepatnya pada Kongres I NU (kini bernama Muktamar), tanggal 21-23 September 1926. Selama beberapa dekade, forum Bahtsul Masa`il ditempatkan sebagai salah satu komisi yang membahas materi muktamar. Belum diwadahi dalam organ tersendiri.

Pada tingkat nasional, bahtsul masail diselenggarakan bersamaan momentum Kongres atau Muktamar, Konferensi Besar (Konbes), Rapat Dewan Partai (ketika NU menjadi partai) atau Musyawarah Nasional (Munas) Alim Ulama. Mulanya Bahtsul Masail skala nasional diselenggarakan setiap tahun. Hal itu terjadi sejak Muktamar I (1926) sampai Muktamar XV (1940). Namun situasi politik yang kurang stabil akibat meletusnya Perang Dunia II, membuat kegiatan Bahtsul Masail yang menyertai Kongres, setelah periode 1940, menjadi tersendat-sendat. Tidak lagi tiap tahun.

Sejak tahun 1926 sampai 2007 telah diselenggarakan Bahtsul Masa`iltingkat nasional sebanyak 42 kali. Ada beberapa Muktamar yang dokumennya belum ditemukan, yaitu Muktamar XVII (1947), XVIII (1950), XIX (1952), XXI (1956), XXII dan XXIV. Dari dokumen yang terlacak, baru ditemukan 36 kali Bahtsul Masail skala nasional yang menghasilkan 536 keputusan. Setelah lebih setengah abad NU berdiri, Bahtsul Masail baru dibuatkan organ tersendiri bernama Lajnah Bahtsul Masail Diniyah. Hal itu dimulai dengan adanya rekomendasi Muktamar NU ke-28 di Yogyakarta tahun 1989. Komisi I Muktamar 1989 itu merekomendasikan PBNU untuk membentuk Lajnah Bahtsul Masail Diniyah, sebagai lembaga permanen.

Untuk memperkuat wacana pembentukan lembaga permanen itu, pada Januari 1990, berlangsunghalaqah (sarasehan) di pesantren Mamba’ul Ma’arif Denanyar Jombang, yang juga merekomen-dasikan pembentukan Lajnah Bahtsul Masa`il Diniyah. Harapannya, dapat mengonso-lidasi ulama dan cendekiawan NU untuk melakukan ijtihad jama’i.

Empat bulanan kemudian, pada tahun 1990 pula, PBNU akhirnya membentuk Lajnah Bahtsul Masail Diniyah, dengan SK PBNU nomor 30/A.I.05/5/1990. Sebutan lajnah ini berlangsung lebih satu dekade. Namun demikian, status lajnah dinilai masih mengandung makna kepanitian ad hoc, bukan organ yang permanen. Karena itulah, setelah Muktamar 2004, status “lajnah” ditingkatkan menjadi “lembaga”, sehingga bernama Lembaga Bahtsul Masail Nahdlatul Ulama.

Dalam sejarah perjalanan Bahsul Masail, pernah ada keputusan penting yang berkaitan dengan metode kajian. Dalam Munas Alim Ulama di Lampung tahun 1992 diputuskan bahwa metode pemecahan masalah tidak lagi secara qawly tetapi secara manhajiy. Yakni dengan mengikuti metode dan prosedur penetapan hukum yang ditempuh madzhab empat (Hanafiyah, Malikiyah, Syafi’iyah, Hanbaliyah). Bukan sekadar mengikuti hasil akhir pendapat madzhab empat.

Lima Keunikan Bahntsul Masa'il

Bahtsul masail memiliki lima keunikan atau kekhasan. Pertama, konsep bersama-sama (jama’i). Forum bahtsul masail yang diselenggarakan di lingkungan NU pasti melibatkan banyak orang dari berbagai macam disiplin ilmu seperti fiqih, ushul fiqih, hadist, dan lainnya. Di sini, sebuah persoalan dilihat dan ditinjau secara komprehensif.  Kedua, tidak mengutip langsung Al-Qur’an dan hadist. Adalah berbahaya kalau merujuk langsung kepada Al-Qur’an. Mengapa? Al-Qur’an itu memiliki makna dan tafsiran yang banyak sekali. Kalau langsung mengutip Al-Qur’an, maka dikhawatirkan akan merujuk arti yang satu yaitu arti terjemahan.

Ketiga, mengutip pendapat ulama secara qouliyah. Di forum-forum bahtsul masa'il, para peserta seringkali merujuk kepada pendapat ulama terdahulu dalam menyikapi sebuah masalah. Biasanya mereka ‘menarik pendapat terdahulu dengan persoalan yang sedang terjadi saat ini. Keempat, selalu mengutip teks-teks berbahasa Arab. Hal ini adalah sesuatu yang problematis karena yang dikutip dalam bahtsul masail hanya kitab-kitab yang berbahasa Arab. Sedangkan, banyak kiai dan ulama NU yang menulis dalam bahasa Indonesia dan pegon. Namun karena karya tersebut ditulis di luar bahasa Arab, maka tidak dikutip. Padahal isinya tidak kalah dengan yang berbahasa Arab. Bahkan bisa saja lebih berisi. Kelima, anggotanya tidak tetap. Para anggota yang bersidang di sebuah forum bahtsul masail tidak lah tetap. Biasanya mereka berganti-ganti. Namun yang pasti, anggota yang ikut bersidang dalam bahtsul masail memiliki kecakapan dalam bidang keilmuan Islam.

Sumber: Khoirul Anam (NU Online) dan Lainnya.




Posting Komentar

0 Komentar