Artikel Terbaru

header ads

Makna Gandul


Pesantren sebagaimana dikatakan oleh Abdurrahman Wahid adalah sebuah sub-culture. Ia adalah komunitas yang memiliki banyak keunikan berbentuk tradisi yang tidak dijumpai di tempat lain. Salah satu keunikan dalam pesantren adalah “ngapsahi” “ngesahi” atau “maknani” (Ensiklopedi NU, 163) (Jawa) dan “ngalogat” (Yahya, 363) (Sunda), yaitu memberi makna dalam di bagian bawah teks atau kalimat yang terdapat dalam kitab kuning dengan menggunakan huruf pegon jawa. Ngesahi, ngapsahi, maknani, maupun ngalogat merupakan sebuah praktik memberikan arti bahasa Arab yang terkandung dalam sebuah kitab dengan menuliskan terjemahannya tepat di bawah teks Arab dengan menggunakan huruf Arab. Sementara tulisan hasil kegiatan ngesahi, ngapsahi, maknani, ataupun ngalogat ini dinamakan dengan makna gandul. Dinamakan demikian karena bentuk dari tulisan ini menggantung (nggandul, jawa) di dalam teks utama.

Melalui proses ini, pemahaman terhadap sebuah teks berbahasa Arab menjadi lebih mudah didapatkan. Pemberian makna dengan cara ini dilakukan kata per kata dan sesuai dengan kedudukannya dalam bahasa Arab (I’rab-nya). Dengan demikian, proses pemberian makna ini sedapat mungkin bisa sesuai dengan struktur dan gramatika bahasa Arab. Sehingga kesalahan dalam memahami teks asli sangat tipis.

Sejarah Makna Gandul Sebagaiman dijelaskan di atas, bahwa “makna gandul” adalah hasil kegiatan tulismenulis yang dilakukan para santri di pesantren dengan membubuhkan makna di bawah teks aslinya (Arab) yang dinamakan dengan istilah ngesahi, ngapsahi, maknani, atau ngalogat. Dengan demikian menilik sejarah makna gandul sama halnya dengan menilik sejarah aktivitas ngesahi. Sejauh ini diskusi mengenai asal usul tradisi makna gandul serta siapa penggagas pertama tradisi ini masih menjadi perdebatan. Sebagian kalangan mengatakan bahwa tradisi makna gandul pertama kali dipelopori oleh Raden Rahmat alias Sunan Ampel. Sebagai pendiri pesantren Ampel Denta, menurut pendapat ini, Sunan Ampel telah mengajarkan kitab dengan menggunakan makna gandul.

Sementara menurut Iip Dzulkifli Yahya, apabila merujuk pada keberadaan sebuah sekolah agama di Jawa Barat, pesantren Quro di Pura Karawang, yang didirikan oleh Syekh Hasanuddin pada awal abad ke-15 maka bisa jadi bukan warisan dari Ampel. Menurutnya, bukanlah hal yang mustahil bila Syekh Hasanuddin alias Syekh Quro inilah perintis tradisi ngalogat (makna gandul) sebagai media pengajaran kitab-kitab berbahasa Arab kepada masyarakat setempat. Praktik Ngesahi, Ngapsahi, Maknani, Ngalogat: Ngesahi sebagai sebuah tradisi khas pesantren Cara ngesahi ini sama dengan penulisan dalam huruf Arab, dari kanan ke kiri. Salah satu fungsinya adalah untuk memudahkan para santri dalam memahami teks sumber (bahasa Arab). Sebab, ngesahi bukan menerjemahkan teks sumber secara bebas. Ia justru sangat rigid. Struktur dan kedudukan kalimat bahasa Arab yang terdapat dalam teks

sumber juga diberi makna. Misalnya, Mubtada dimaknai dengan utawi (jawa) atau ari (sunda), khabar dengan iku (jawa) atau eta (sunda). Hal ini membuktikan bahwa proses ngesahi sangat rinci dan detail. Ia bukan hanya proses menerjemah dari bahasa sumber (Arab) tapi juga memberikan penjelasan tentang tarkib atau susunan gramatikal sebuah kalimat. Untuk dapat memahami bagaimana cara kerja dan praktik makna gandul ini dapat diperhatikan dalam contoh berikut:

Contoh makna gandul berbentuk jumlah fi’liyyah (Kata Kerja ):

Dharaba Zaidun Amran

Dalam makna gandul bahasa Jawa kalimat tersebut dibaca:
(Dharaba) wis nabok , sopo (Zaidun) zaid, (Amran) ing Amar.

Lafadz dharaba dalam kalimat tersebut adalah berbentuk fiil madhi (sebuah pekerjaan yang telah lampau), oleh karena itu dalam makna gandul diberi makna wis nabok (telah memukul). Sedangkan lafadz Zaidun adalah fa’il (pelaku atau subyek), dalam makna gandul di atas diberi tanda (sopo/siapa) sebagai penunjuk bahwa kata itu adalah fa’il. Dan Amran dalam tata bahasa Arab adalah maf ’ulun bih (obyek). Sehingga makna gandulnya adalah ing (terhadap).

Kalimat di atas dalam bahasa Indonesia diterjemah menjadi Zaid telah memukul Amar.

Sementara dalam makna gandul bahasa sunda (ngalogat sunda), perubahan serta perbedaan dengan makna gandul jawa sebagaimana contoh di atas hanya terletak dari segi bahasa. Artinya, pada titik ini, baik makna gandul jawa maupun ngalogat sunda sebenarnya sama. Yang membedakan hanyalah bahasanya saja. Utawi sebagai makna tarkib mubtada dalam bahasa Jawa diganti menjadi ari dalam bahasa Sunda. Iku sebagai makna dari tarkib khabar dalam bahasa Jawa, diganti menjadi eta dalam bahasa Sunda.

Selain pemberian makna terhadap susunan gramatikal Arab ke dalam bahasa lokal, dalam penulisannya makna gandul juga memiliki rumus yang digunakan untuk mempersingkat dan memangkas waktu agar tidak tertinggal dari kyai yang sedang membacakan kitabnya serta menyiasati dari ruang penulisan dalam kitab yang cukup sempit. Rumus-rumus tersebut seperti huruf mim sebagai pengganti dan sekaligus tanda mubtada. Huruf kha menunjukkan kedudukan sebagai khabar. Fa’ sebagai fa’il. Mim Fa’ sebagai Maf ’ul Bihi, Mim Tha’ sebagai tanda maf ’ul mutlaq, dan seterusnya.



Di samping rumus-rumus singkatan dari kedudukan atau tarkib seperti di atas, makna gandul juga memiliki rumus lain untuk menyingkat sebuah makna yang kembali kepada kata sebelumnya (dalam bahasa pesantren disebut marji’). Hal ini hanya ada dalam kata-kata bahasa Arab yang berbentuk dhamir (kata ganti). Dalam penulisan ini, tidak ada standar tetap. Para santri memiliki kreasi sendiri-sendiri. Sebab, yang terpenting dari hal ini di samping mempersingkat waktu juga bisa dibaca sendiri oleh masing-masing santri.

1) Ari/Utawi/Adapun, digunakan untuk menunjukan kalimat yang berkedudukan sebagai mubtada.
2) Eta/Iku/Adalah, digunakan untuk menunjukan kalimat yang berkedudukan sebagai khobar.
3) Saha/Sopo/Siapa, digunakan untuk menunjukan kalimat yang berkedudukan sebagai fail/naibul fail yang berakal.
4) Naon/Opo/Apa, digunakan untuk menunjukan kalimat yang berkedudukan sebagai fail/naibul fail yang tidak berakal
5) Kana/Ing/Kepada, digunakan untuk menunjukan kalimat yang berkedudukan sebagai maf ’ul bih.
6) Kalayan/Kalawan/Dengan, digunakan untuk menunjukan kalimat yang berkedudukan sebagai maf ’ul muthlaq.
7) Dina/Ingdalem/Di, digunakan untuk menunjukan kalimat yang berkedudukan sebagai dharaf zaman.

Sedangkan dalam hal penulisan “makna gandul,” para santri biasanya menggunakan pena yang runcing (ada yang terbuat dari bambu maupun besi) dan juga tinta cina. Pena yang runcing (disebut pentul alias bolpen tutul) agar mendapatkan tulisan yang tipis sehingga tidak melebar dan meluber ke teks asli serta bisa terbaca di antara barisbaris teks kitab kuning yang rata-rata ditulis dalam ukuran satu spasi. Sementara tinta cina (sebagian pesantren mengistilahkannya dengan tinta bak) yang digunakan sebagai medium penulisan makna gandul ini dianggap lebih awet dan bertahan cukup lama. Sebagai wadah dari tinta ini, para santri menggunakan wadah yang terbuat dari besi atau sebuah wadah bekas yang terbuat dari plastik seperti balsem.

Makna gandul kiranya memiliki peranan yang cukup penting sebagai salah satu cara melestarikan bahasa Arab Pegon yang kini posisinya tergantikan dengan aksara latin. Pada titik ini aksara pegon dan makna gandul berkait kelindan. Dan pesantren adalah tempat persemaian keduanya. Hal ini menunjukkan bahwa pesantren sebagai lembaga pendidikan tradisional masih setia merawat tradisi lokal ini dengan baik.

Sumber: Ensiklopedi Islam Nusantara (Edisi Budaya)
Kemenag RI

Posting Komentar

0 Komentar