Artikel Terbaru

header ads

Pesantren Sebagai Pusat Pendidikan Agama Plus


Oleh: HM. Mujab Mashudi, Ph.D *)

Tradisi Keilmuan
Pendidikan Islam di Indonesia diawali dengan lahirnya pesantren  yang didirikan oleh para ulama  di masa masa sulit jauh sebelum kemerdekaan Republik Indonesia. Sebagai lembaga pendidikan tertua,  pesantren  telah mengalami perubahan yang luar biasa karena tuntutan situasi dan kondisi yang mengharuskan pesantren melakukan modernisasi dalam sistem pendidikannya. Meskipun demikian pesantren sebagai lembaga pendidikan mempunyai ciri-ciri tertentu, karena pesantren memiliki tradisi keilmuan yang berbeda dengan tradisi keilmuan lembaga-lembaga pendidikan lainnya. Dalam hal ini misalnya pesantren mengajarkan kitab kuning yang ditulis dalam bahasa Arab di mana kitab-kitab itu ditempatkan pada posisi istimewa dalam kurikulum pesantren.
Demikian pula dalam tradisi metode pembelajarannya terdapat perbedaan dengan tradisi pembelajaran di lembaga pendidikan lain. Di pesantren pembelajaran dilakukan dengan sistem bandongan dan sorogan dengan corak yang tersendiri. Diawali dengan kitab-kitab mukhtasarat  yang berisi teks-teks ringkas dan sederhana, kemudian dilanjutkan dengan kitab mutawassithat, dan dilanjutkan dengan kitab-kitab tingkat lanjut. (Abdurrahman Wahid, 2007)
Untuk melacak tradisi keilmuan di pesantren perlu dilihat pada perkembangan ilmu-ilmu keIslaman sejak awal generasi pertama, di mana salah satu watak utama dari ajaran Islam adalah penekanan pada aspek pendidikan sebagaimana bisa dilihat dari sumber-sumber al-Qur’an dan Hadist yang menggambarkan pentingnya ilmu dalam pandangan Allah.
Adapun kitab-kitab yang dikaji di pesantren di Indonesia pada umumnya lebih menonjol dalam bidang fikih dan tasawuf, hal ini menurut Martin Bruinessen disebabkan adanya sebuah proses pembaharuan atau pemurnian yang muncul pada abad ke 17. Pada awalnya memang lebih menonjol tasawuf ketimbang fikih, tetapi akibat gerakan Islamic revival disusul dengan munculnya gerakan modernis seperti Al-Irsyad, Muhammadiyah, tarikat Naqshabandiyah, dan PERSIS, fikih menjadi primadona di antara semua mata pelajaran di pesanten. (Martin; 1994:112) Di samping itu dalam tradisi pesantren terdapat kegiatan bahsul masail  secara rutin untuk memecahkan masalah-masalah yang memerlukan jawaban dari literatur kitab kuning. Tentu kitab-kitab fikihlah yang lebih tepat untuk dijadikan rujukan utama. Tradisi bahsul masail ini membahas masalah-masalah yang aktual seperti ‘praktek suap’ yang marak terjadi di Indonesia, kasus bom bunuh diri yang mengatasnamakan jihad, dan seterusnya.(KH. Mitahul Ahyar 2013)

Tata Nilai di Pesantren
Nilai-nilai luhur  tradisi di pesantren yang dikembangkan dalam seluruh tata kehidupan sampai saat ini masih tejaga dengan baik, hal itu karena sistem pendidikan yang khas pesantren meskipun beragam dalam tingkat dan jenjangnya adalah sebagai berikut; Pertama, orientasi transendental, para ulama pesantren memiliki komitmen yang kuat terhadap cita-cita yang mulia, bahwa segala perjuangan dan aktivitasnya adalah sebagai pengabdian kepda Allah swt. Kedua, mentransmisikan ajaran Islam adalah sebagai kewajiban bagi setiap muslim Ketiga, kesederhanaan sebagai implementasi ketaqwaan kepada Allah swt.  Keempat, keteguhan dalam memegang prinsip moderasi  (( توسط Kelima, solidaritas kemanusiaan yang tinggi Tata nilai yang melandasi tradisi pesantren di atas berhasil membentuk nilai tawasuth, moderat, tawazun, menjaga keseimbangan dan harmoni, serta tasamuh, atau jiwa toleransi yang tinggi dan adil, memiliki prinsip keadilah yang teguh (Suryadharma Ali, 2013, 86)

Keunggulan Pesantren
Jika dahulu pesantren ditipologikan pada karakteristik dan keunggulan dalam bidang-bidang takhassusnya, kini telah bergeser, pesantren dikategorisasikan dari muatan kurikulum dan sekolah-sekolah yang berada di dalamnya. Sehingga banyak pesantren yang mengelola lembaga pendidikan dari tingkat PAUD sampai Sekolah Tinggi.  Pergulatan pendidikan pesantren saat ini  masih banyak diwarnai oleh antara academic expectation, yaitu  keinginan untuk meningkatkan mutu sebagai lembaga pendidikan di satu sisi dengan sosial expectation, harapan umat Islam bahwa lembaga pendidikan Islam memikul tugas pembinaan umat sebagai lembaga dakwah. (Azra;133, 2012)  sementara tuntutan globalisasi mengharuskan pesantren agar berperan aktif dalam mempersiapkan peserta didik dalam konstelasi masyarakat global yang tidak mengenal batas (global state) di satu sisi dan sisi lain pendidikan Nasional menuntut untuk agar pendidikan ikut melestarikan  karakter nasional sebagi nation state yang berorientasi pada rekonstruksi sosial agar pendidikan dalam rangka pemberdayaan bangsa mampu menciptakan kemandirian, kunggulan, dan iklim toleransi dalam kemajemukan suku, bahasa, dan budaya lokal yang beragam.(Azra; 2012).
Selanjutnya pesantren juga dituntut agar melakukan tugas pokoknya sebagai pusat transmisi keilmuan agama, pemeliharaan terhadap tradisi amaliyah keIslaman, dan tempat produksi kader-kader ulama. Dengan demikian pesantren memiliki tugas yang tidak ringan karena pesantren dituntut untuk:
1)  Melestarikan tradisinya sebagai tempat transfer of knowledge dalam keilmuan agama sebagai pusat tafaqquh fi al-din
2)  Mengikuti kurikulum Kemendikbud, atau
3)  Mengikuti kurikulum Kemenag
4)  Melakukan pendidikan vokasional (vocational training)     
Dengan demikian pesantren bisa menjadi pusat pendidikan agama plus, karena para santri di samping dididik ilmu agama mereka juga diajarkan life skill agar siap memasuki alam globalisasi. Bertolak dari urain di atas setidaknya bisa ditarik kesimpulan bahwa pergeseran orientasi pendidikan pesantren mengalami never ending process dan belum sampai pada titik final sesuai dengan hukum sunnatullah, dari yang semula deduktif-dogmatik menuju induktif-rasional, karena pesantren selalu dituntut untuk memperhatikan selera masyarakat. oleh sebab itu pesantren bukan saja harus mampu membaca tapi juga menerjemahkan kecenderungan masyarakat yang terus berubah akibat perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi maupun budaya. Sehingga kini di Indonesia banyak tumbuh pesantren modern yang telah berhasil menyerap unsur-unsur baru yang dipandang penting, meskipun masih tetap menjaga tradisinya yang lama. Karena dalam hal ini ada prinsip yang berlaku di kalangan pesantren yaitu;

المحافظة علي القديم الصالح والاحذ بالجديد الاصلح
menjaga tradisi lama yang baik, dan mengambil hal baru yang lebih baik”

Agaknya dari prinsip inilah para kyai pimpinan pesantren bersikap lentur dan akomodatif dalam menyerap berbagai perubahan yang terjadi di masyarakat, karena pesantren memiliki fungsi religius (diniyah), fungsi sosial (ijtima’iyah), dan fungsi edukasi (tarbawiyah) yang masing-masing ketiga fungsi ini masih tetap dijaga secara konsisten sampai sekarang.
Dari fungsi religius pesantren telah melahirkan banyak tokoh-tokoh semacam syekh Mahfud al-Turmusi (Pesantren Tremas), syekh Hasyim Asy’ari (pesantren Tebuireng), syekh Abul Fadhol (Pesantren Sendangsenori Tuban), mereka adalah tokoh-tokoh religius yang memiliki banyak karangan kitab-kitab yang sampai sekarang dikaji di lingkungan pesantren. Dari fungsi sosial, pesantren telah melahirkan tokoh semacam kyai Wahab Hasbullah (pesanten Tambak Beras, Jombang) kyai Sahal Mahfudz (pesantren Kajen, Pati), Abdurrahman Wahid (Presiden Indonesia ke 4, Prof. Mukti Ali, Ali Yafi dan lain-lain yang telah banyak berkiprah di dunia sosial dan politik di Indonesia Dari fungsi tarbawi, pesantren telah melahirkan banyak pendidik seperti KH. A. Zarkasi (pesantren modern Gontor) pendiri dan penggagas pesantren modern di Indonesia yang menerapkan sistem pendidikan modern dengan bilingual, Arab dan Inggris sebagai bahasa sehari-hari di pesantren, Kyai Saifudin Zuhri pernah menjadi Menteri Agama pada era Presiden Sukarno dan banyak kyai-kyai lain yang memiliki reputasi nasional dalam pendidikan tidak disebutkan disini. Memang agak sulit memisahkan keahlian para tokoh lulusan pesantren karena ketokohan mereka yang multi dimensi.
Yang jelas kini banyak pesantren yang memasukkan “sekolah umum” dan sekolah tinggi, bahkan universitas di dalamnya. Dengan model ini artinya pesantren kembali pada fungsinya yang pertama, yaitu tempat belajar imu-ilmu agama murni di luar bangku sekolah/kuliah.

 *) Dosen di Pascasarjana UIN Maulana Malik Ibrahim Malang;
    Pengurus RMI-NU Jawa Timur

Posting Komentar

0 Komentar