Artikel Terbaru

header ads

Peran Tarekat dalam Membentuk Nasionalisme


Oleh: HM. Mujab Mashudi, Ph.D *)

Tasawuf sebagai induk dari tarekat  tidak diragukan lagi telah berjasa amat besar terhadap kehidupan spiritual dan intelektual Islam di Indonesia. Pengaruh tasawuf telah menjangkau ke seluruh lapisan masyarakat dari elit-nya sampai masyarakat bawah. Sebagai ajaran, tasawuf telah mempengaruhi pola hidup, moral, dan sendi-sendi kehidupan meliputi kesadaran estetik, filsafat sampai tujuan hidup seseorang. Tarekat  sebagai inti dari ajaran tasawuf telah masuk ke Indonesia sejak awal bersamaan dengan masuknya Islam ke Indonesia, yaitu sekitar abad ke 12 Masihi. Bukti-bukti yang bisa dijadikan argumentasi adalah Islam yang di bawa oleh Wali sembilan ke Indonesia adalah islam yang bercorak sufi dan sekaligus pengamal tarikat.
Dalam pandangan sufi, tarikat adalah sebuah upaya mendekatkan diri kepada Allah melalui jalan tertentu. Para guru sufi menuntun kepada para muridnya agar melakukan pembersihan hati dengan mengikuti sunnah Nabi, memperbaiki akidah, akhlak, dan menjauhi penyakit hati, seperti sifat sombong, khasad, ria’ dan seterusnya. Upaya demikian dilakukan oleh para sufi agar memperoleh ridha Allah dan tertanam cinta kepada Rasulnya dan guru-gurunya.  Kesempurnaan iman adalah menjadi tujuan utama dari tarekat, karena kesempurnaan iman harus ditempuh melalui tahapan-tahapan dan amalan-amalan tertentu, maka tahapan demi tahapan pun harus dilalui oleh sang murid. Semua amalan tidak ada lain bertujuan untuk kebersihan hati dan kejernihan bathin, untuk itu diperlukan ilmu lahir dan ilmu bathin.
Di Indonesia selain tarikat-tarikat besar seperti Naqshabandiyah, Syadziliyah, Sattariyah, juga tercatat banyak lagi taikat yang berafiliasi pada Jam’iyyah thariqoh Mu’tabaroh, seperti  Sattariyah, Sanusiyah dan Tijaniyah dan lainnya. Kedatangan Islam di Indonesia mulai sejak awal, terutama pada abad ke 14 dan ke 15 telah diwarnai oleh pemikiran tasawuf. Pemikiran Al-Gazali, Ibnu Arabi sangat berpengaruh terhadap pengamalan-pengamalan keseharian kaum muslimin di Indonesia. Tradisi yang bekembang biasanya para guru dikelilingi oleh murid-muridnya, mengamalkan zikir dan awrad tertentu sebagai amaliah kesehariannya lalu dari sistem semacam ini seorang pengikut tarekat yang memperoleh kemajuan  dengan melalui sederet amalan berdasarkan tingkat yang dilalui bisa menjadi murid dari guru tarikat, selanjutnya bisa jadi karena kemajuan yang diperoleh itu dia diangkat menjadi pembantu guru, dan akhirnya menjadi guru yang mandiri.
Tarekat sebagai sebuah ajaran memiliki dimensi yang amat luas, meliputi olah lahir dan olah bathin. Sifatnya yang multidimensi ini menyebabkan tarekat dilakukan dengan cara berguru, tidak bisa diamalkan sendiri tanpa bimbingan guru. Dalam gerakannya yang akomodatif, tarekat mudah diterima oleh masyarakat secara luas tidak terkecuali di Indonesia terutama pada awal penyebaran Islam di Indonesia.
Tarekat yang berkembang pesat melalui institusi pendidikan, pesantren, dan kini  perguruan tinggi ternyata mampu meyebar secara luas di indonesia dan berhasil membentuk karakter umat Islam di Indonesia yang khas. Institusi pesantren tarekat maupun pesantren kitab sebagai induk penyebaran tarekat ternyata telah berjasa dalam melestarikan dan menyemaikan pendidikan kebangsaan dan mempertahankan NKRI.  Salah satu hal yang lahir dari tarekat adalah rasa cinta tanah air (nasionalisme) yang dipupuk di pesantren oleh para kyai.
Seorang yang memiliki rasa cinta terhadap bangsa adalah orang yang di dalamnya mengalir darah nasionalisme. Rasa cinta negara ini terusik manakala negara dilecehkan orang lain atau dirong-rong kewibawaannya sehingga secara reflektif menyinggung perasaannya. Salah satu yang melatar belakangi perasaan nasionalisme adalah pendidikan, pengalaman, dan juga pengaruh sosial lingkungannya. Sejarah telah mebuktikan bahwa pada KH. Hasyim Asy’ari dalam forum par kiyai di Surabya, tepatnya tanggal 22 Oktober, 1945 mengeluarkan pernyataan yang dikenal dengn Resolusi Jihad yang isinya diantaranya adalah sebagai berikut;
1)     Kemerdekaan Republik Indonesia yang diproklamaasikan pada tanggal 17 Agustus 1945 hukumnya wajib dipertahankan
2)     Republik Indonesia sebagai satu-satunya pemerintah yang wajib dibela dan dipertahankan
3)     Umat Islam Indonesia, terutama warga Nahdlatul Ulama wajib mengangkat senjata melawan penjajah Belanda dan kawan-kawannya yang hendak kembli mejajah Indonesia
4)     Kewajiban itu adalah suatu jihad yang menjadi kewajiban setiap orang Islam (fardhu ‘ain) yang berada pada radius 94 km., yaitu jarak di mana umat Islam diperkenankan untuk melakukan shalat jama’ qashar. Adapun bagi yang berada di luar radius 94 km., berkewajiban membantu saudara-saudaranya yang berada pada radius 94 km.  (Ali Maschan; 2007: 268)

Selanjutnya pada keputusan Muktama ke -27 di Situbondo tahun 1984 ditegaskan bahwa Asas Tunggal Pancasila dan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) yang berdasarkan Pancasila dan UUD 1945 adalah bentuk final bagi upaya umat Islam mendirikan negara. Oleh sebab itu definisi Bangsa menurut keputusan tersebut adalah sekelompok orng yang karena berada di wilayah geografis tertentu dan memiliki kesamaan mengikatkan diri dalam suatu sistem dan tatanan kehidupan. Pengelompokan tersebut merupakan realitas kehiupan yang diyakini sebagai kebutuhan manusia yang fitri.
Dari uraian di atas bisa ditarik kesimpulan, bahwa pesantren sebagai basis penyebaran tarikat ternyata  berhasil melahirkan kesadaran nasionalisme yang tinggi. Sikap nasionalisme ini tentu tidak terbentuk begitu saja tanpa adanya suri tauladan dari para mursyid dan guru tarekat, tetapi juga dibentuk oleh lingkungan pendidikan sebagaimana lingkungan di pesantren. Bukan saja ketika saat berhadapan dengan penjajah tapi sikap itu juga tertuang dalam pendeklarasian pentingnya menjaga NKRI sebagai sebuah sunnatullah yang harus dibela keberadaannya dari segala bentuk  tindakan distruktif yang mengancam terhadap keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). Akan tetapi mengingat kondisi perkembangan zaman yang terus berubah dengan masuknya barbagai aliran Islam ke Indonesia maka perlu dilakukan upaya-upaya  yang lebih sinergis.

*) Dosen di Pascasarjana UIN Maulana Malik Ibrahim Malang;
    Pengurus RMI-NU Jawa Timur

Daftar referensi
- Esposito John L, The Oxford Encyclopedia of the Modern Islamic world, 1995
- Muhammad Ahmad Darniqa, at-Thariqah an-Naqshabandiyya wa a’lamua,  TharabliSs, 1987
- KH. Ahmad Asrori al-Ishaqi, al-Muntakhabat fi Rabithah al-Qalbiyah wa shilati ar-Ruhiyah, Surabaya, 2007
- Moesa Ali Maschan, Nasionalisme Kai; konstruksi sosial berbasis Agama, Lkis, Yogjakarta, 2007
- Musyrifah Sunato, Sejarah Peradaban Isla Indonesia, Rajagrafindo 2010
- A. Hasymy, Sejarah kebudayaan Islam di Indonesia,Bulan Bintang Jakarta, 1990
- Martin van Bruinessen and Julia Day Howell,  New York, 2007
- Kautsar Azhari Noer, Ibnu al-Arabi Wahdat al-Wujud dalam Perdebatan, Paramadina, Jakarta, 1995



Posting Komentar

0 Komentar