Artikel Terbaru

header ads

Memahami Peran NU dalam Kajian Sejarah


Oleh: Ahmad Firdausi
Menelusuri kiprah dan peran Nahdlatul Ulama sejak awal berdirinya hingga saat ini penting untuk dilakukan. Kontribusi tanpa batas pada negeri ini menjadi NU adalah berkah tak ternilai dalam sejarah panjang NKRI. Kaidah al-Muhafadhatu ala al-Qadimi al-Shalih wa al-Akhdzu bi al-Jadidi al-Ashlah yang dipedomani NU telah menjadikan NU selalu memberikan kontribusi dalam berbagai dimensi kehidupan negeri ini.

Menuliskan peran dan kiprah NU sudah banyak dilakukan, baik oleh pengamat non-NU maupun nahdliyyin sendiri. Sejarah NU umumnya ditulis secara kronologis yang dikaitkan dengan pembahasan tertentu. Berbeda dengan Kyai Mun’im dalam bukunya "Fragmen Sejarh NU", beliau berikhtiar untuk menuliskan NU tidak berdasarkan kronologis dan tema tertentu. Tetapi beliau melakukan pembacaan atas fragmen sejarah NU yang tercecer. Menurut beliau, kontribusi NU dalam sosial, politik, ekonomi dan budaya masih banyak yang berserakan, belum terdokumentasikan, tersembunyi atau sengaja disembunyikan. Oleh karena itu, untuk melakukan penelusuran dan penggalian sejarah, membaca dan mengangkat kembali fragmen-fragmen yang lama terpendam adalah sebuah keniscayaan (hal. 2)

Fikrah Nahdliyah (pemikiran NU) telah menjadikan NU memiliki strategi dan perspektif sendiri dalam melihat, memaknai dan menilai berbagai realitas. Ini yang menurut Kyai Mun’im harus dipedomani oleh siapapun yang ingin meneliti, menulis dan berbicara tentang NU agar tidak terjadi penyimpangan penulisan sejarah NU. Apabila ini terjadi, setidaknya ada disebabkan oleh dua hal yaitu (hal 16):  

Pertama, terdapat perbedaan ideologi politik dan ideologi pengetahuan; sebagian merasa dirinya westernis dan modernis sementara NU dipandang sebagai kelompok tradisionalis dan kental dengan nuansa kejawen dan melihat NU sebagai ancaman sehingga dapat dimaklumi ketika mereka pun memandang NU dengan frame yang negatif. Kedua, penulisan sejarah NU seringkali terkendala minimnya sumber. Hal ini biasanya terjadi pada penulisan NU daerah. Peminat sejarah merasa kekurangan bahan untuk mendukung penulisan. Hal ini umumnya dikarenakan peminat sejarah NU kurang semangat dan tidak rajin menggali berbagai informasi yang tercecer.

Oleh karena itu, Kyai Mun’im mengambil jalan yang tidak populer yaitu menggali informasi yang tercecer, meskipun tidak jarang hanya sepotong dan tidak utuh. Kehidupan sehari-hari tokoh NU, sepenggal kisah sesepuh, atau petilasan beserta kisah-kisah yang menyertainya sudah cukup bagi Kyai Mun’im untuk menuliskannya menjadi sebuah catatan sejarah NU. Bagi beliau, ini semua merupakan kekayaan sejarah yang layak didokumentasikan. Inilah yang beliau sebut dengan Fragmen NU.

Untuk mendukung kegemarannya dalam mendokumentasikan fragmen-fragmen NU, Kyai Mun’im biasa melakukan Rihlah (lelono broto) yaitu perjalanan fisik dari satu tempat ke tempat yang lainyang merupakn suatu proses mengenal dunia nyata, baik keadaan alam, keadaan masyarakat, serta melatih kekuatan fisik serta kepekaan inderawi dan sekaligus mengasah kemampuan nalar (hal 17). Setelah memperoleh kebeningan jiwa, fisik dan nalar, berikutnya Kyai Mun’im melakukan uzlah (topo broto) yaitu aktivitas merenung, menghayati alam jagad raya, dengan demikian akan melihat jelas arti pengalaman dunia sehingga bisa menemukan sejatinya pengetahuan, serta mengetahui asal-usul serta duduk semua persoalan (hal 18).

Dengan metode ini, Kyai Mun’im telah melahirkan ratusan fragmen dengan berbagai tema. Mulai dari cacatan Muktamar pertama, proses lahirnya lambang NU hingga berbagai catatan tentang Budaya dan Politik. Semua disajikan dengan ringan, mudah dipahami dan tanpa kehilangan esensi ke-NU-an. Melalui fragmen Kyai Mun’im kita diajak untuk membaca kembali dinamika awal berdiri, tumbuh dan berkembangnya NU, sampai dengan persinggungan NU dengan Sosial, Budaya dan Politik.

Bagi kita yang terbiasa membaca sejarah secara kronologis, tentu akan melihat buku ini masih banyak kekurangan untuk dapat disebut sebagai buku yang bergenre sejarah. Meskipun demikian, ikhtiar Kyai Mun’im untuk menghadirkan historiografi NU melalui fragmen-fragmen ini layak untuk diapresiasi positif. Meskipun berupa potongan-potongan peristiwa, buku ini mampu membuat bangkit ingatan kita akan pentingnya sebuah sejarah. Buku ini melegitimasi hal itu dan mengajak kepada kita untuk menuliskan sejarah kita sendiri, meskipun itu dalam bentuk fragmen.

*) Sekretaris PW RMI-NU Jatim
*)) Tulisan ini merupakan resensi dari buku "Fragmen Sejarah NU" oleh KH. Mun'im DZ.

Posting Komentar

0 Komentar