Artikel Terbaru

header ads

Keadilan Berasas Kebaikan, Catatan Seorang Dokter


Seorang dokter yang kini aktif di RMI-NU Jatim mempunyai catatan khusus perjalanan hidupnya yang bisa menjadi inspirasi siapa saja dalam memahami keadilan dalam kehidupan. Inilah kisah dokter Hisnindiarsyah.

Sebetulnya, aku sudah lama ingin belajar hukum. Awalnya sangat sederhana. Ketika terlambat masuk kelas, aku pasti disetrap berdiri pegang kuping, angkat kaki satu di depan kelas. Oleh guruku, Bu Panjaitan  almarhum, guru yg paling sering menghukumku saat SD dan sekaligus yang mengangkat aku jadi ketua kelas, hampir selama aku  belajar di SD 03 pagi Cipulir Jakarta.  Beliau juga tidak segan segan, menghukum aku, jika aku melakukan kesalahan. Dan kepala sekolahku, almarhum H. Muhammad Ali, yang sangat sabar pun, mengamini, jika aku harus dihukum : karena bikin gaduh di kelas, hobiku bikin musik dangdutan dengan memukul-mukul meja dan bangku kelas. Setiap waktu istirahat tiba, bermusik patrol;  lengkap dengan kaleng tutup botol minuman yg dipukul batu, tercipta jadi kencringan. Bahasa betawinya : Kecrekan, senjata utama pengamen di lampu merah.

Menariknya,  mereka paham kalau aku sering terlambat karena rumahku cukup jauh dari sekolah. Tapi mereka malahan menjadikan aku ketua kelas. Tugasnya memegang absen dan menyiapkan teman teman berbaris di depan kelas. Sehingga mau tidak mau, aku dipaksa untuk tidak terlambat lagi. Karena jika aku terlambat , teman-teman disuruh menunggu aku tiba, baru bisa masuk kelas. Bisa repot kalau berurusan dengan teman-teman, karena akan diboikot: tidak diajak main  bola gebok, kasti dan tidak  ditraktir kojek: bakso kecil dari tepung yg dicelup saos abal abal, tapi kita senang mengkonsumsinya.

dokter Hisnindiarsyah (kaos biru) bersama Bupati Lumajang
Bicara tentang nakal, kayaknya nakalku dulu standar saja.  Sekedar ikut2an: sekedar ikut berkelahi antar sekolah misalnya,  (hehehe). Memang aku bukan pelopornya, tapi karena alasan solidaritas yg tidak jelas, aku ikut saja. Namun  setiap guru datang, kita semua bubar, berhamburan ketakutan. Tidak ada yang berani melawan guru. Tidak seperti sekarang. Guru dibully habis-habisan oleh muridnya tanpa melawan. Kalau di jamanku, pasti sudah habis ditabokin, digaplok , ditampar sama guru jika muridnya tidak bisa diatur. Tidak ada gugat alasan HAM.  Alhamdullilah aku tidak pernah mendapat tindakan seperti itu.

Meskipun demikian di jaman itu,  era tahun 70an,  kenakalan tetap mendapat hukuman. Tapi prestasi juga mendapat penghargaan. Saat itu, memang aku selalu juara kelas, selalu rangking 1, imbang dengan kenakalanku yang suka bikin gaduh di kelas,  ngajak bolos sekedar untuk cari ikan 'cere' di empang samping sekolah, atau main ke sekolah sebelah, caper sama anak SD tetangga  yang lumayan manis manis (hahaha).

Lalu keputusan apa yang diambil oleh mereka untuk menghadapi siswa SD seperti aku? bukan tidak naik kelas, karena tidak mungkin, mendowngradekan siswa yang meraih juara kelas. Tapi mereka juga suntuk , dengan ulahku, yang selalu membuat kehebohan secara berjamaah.

Keputusan yang diambil:  Loncat kelas. Yah, naik kelas langsung dari kelas 4 naik kelas 6. Kelas 5 hanya aku alami 2 minggu saja. Kalau sekarang, namanya program akselerasi, kalau dulu tidak dikenal akselerasi. Yang ada, ya namanya loncat kelas. Secara aturan formal tidak ada, tapi secara  informal , dibolehkan karena jadi otoritas sekolah.

Jadilah, teman temanku yg dikelas 5 SD, bernafas lega , karena ditinggal sibiang gaduh. Ganti, temanku  yang duduk di kelas 6 SD menjadikanku sebagai kompetitor sekaligus ancaman.  Jangan jangan menularkan virus huru hara juga hahaha.

Tapi sekali lagi , itulah contoh  hukuman yg berkeadilan yang aku alami. Hukum yang dibangun dengan nilai nilai kebaikan.

 *In Dubia  pro reo* ( bila hakim ragu mengenai kesalahan terdakwa, hakim harus menjatuhkan keputusan yang menguntungkan terdakwa)

Hukum bukan untk membuat menderita seorang pesakitan, juga bukan sekedar membuat jera.Tapi hukuman juga harus bisa membuat seseorang menjadi menjadi lebih baik dan semakin ter "eksplorasi" nilai  kebaikan-kebaikan yang ada pada dirinya. Sehingga ketika hukuman dijatuhkan, sang pembuat keputusan, harus paham betul , siapa yang dihukum dan mengapa harus dihukum juga hukuman apa yg pantas diberikan. Sekali lagi hukuman yang berazaskan Kebaikan : bukan hanya keadilan, akan menjadikan outcome terhukum , akqn menjadi lebih baik.

 *Uut Sementem feceris ita mentes* ( siapa yang menanam sesuatu, dia yang akan memetik hasilnya).

 *Mellius est acciepereui quam facere injuriam* ( lebih baik mengalami ketidak adilan, daripada melakukan ketidak adilan)

Saiyidina Ali Ra pernah menyampaikan beberapa kata bijak :

Jika engkau ingin mengetahui watak seseorang, maka ajaklah dia bertukar pikiran denganmu. Sebab, dengan bertukar pikiran itu, engkau akan mengetahui kadar keadilan dan ketidakadilannya, kebaikan dan keburukannya(1)

Kezhaliman akan terus ada, bukan karena banyaknya orang-orang jahat. Tapi karena diamnya orang-orang baik(2)

Dan akhirnya , berawal dari  hal yang sederhana itulah, akhirnya aku menyelesaikan Magister Hukum di universitas Patimura. Walau jalan berat berliku dan tertatih tatih. Ahay.

Terimakasih untuk semua guru guruku yang telah membantuku mewujudkan cita cita sederhanaku. Dan nampaknya, sangat bermanfaat dengan profesi yang aku geluti sekarang . Serta menunjang tugasku sebagai abdi negara.

 *Dangke Profesore*

 **Tribute to my lecturer:

DR. J.Leatemia SH MH
DR. Sherly Adam  SH MH
DR J.KMatuannakota SH MH
DR. J.D.Pasalbessy SH MHum.
*
Prof . Dr.Ir.AWS.Retraubun MSc

Dan seluruh teman teman Magister Hukum unpatty tahun 2016.Dangke

Ambon Manise, 17 desember 2018

*) Hisnindiarsyah, Koordinator Bidang Kesehatan RMI-NU Jatim

Posting Komentar

0 Komentar