Artikel Terbaru

header ads

Gudik dan Mitos Keberkahan Ilmu Pesantren



Oleh: Hamidullah Ibda

Teman saya yang aktif di LTN NU saat diskusi pernah berkata. “Saya yakin Ki Hajar Dewantara menyesal karena dulu tidak memasukkan pesantren sebagai salah satu lembaga pendidikan dalam sistem pendidikan nasional”. Demikian katanya. Saya pun setuju dengan pendapat tersebut.

Pesantren, tidak sekadar soal metode ngaji berbasis bandongan atau sorogan. Tidak melulu soal kitab kuning, Arab Pegon, dan metode pemaknaan utawi iki iku, serta berurusan bahtsul masail.

Gus Dur dalam buku Menggerakkan Tradisi: Esai-Esai Pesantren (2001) mengilmiahkan tradisi-tradisi pesantren yang skalanya dapat diadopsi pendidikan nasional bahkan dunia. Lebih dari itu, pesantren memiliki enigma dan mitos kuat, salah satunya penyakit kulit yang biasa disebut gudik/gudig atau gudiken.

Gudik merupakan salah satu alat “melegitimasi” seorang itu santri tulen atau abal-abal, atau belum santri kafah.

Namun, dunia pesantren yang identik dengan gudik itu “dikutuk-kutuk” sebagai tempat kumuh, jorok, dan tidak menjaga kesehatan, padahal realitasnya tidak demikian. Meski pesantren itu bertempat di pelosok desa yang jauh dari sinyal dan peradaban, santri selalu menjaga kesehatan sesuai komunitas mereka.

Buktinya, ada ta’zir (hukuman mendidik), ro’an (bersih-bersih), dan tradisi lain untuk selalu bergotong-royong menjaga kebersihan pondok. Apalagi saat haul, haflah, akhirusanah dan peringatan hari besar Islam lain yang mengharuskan pesantren bersih dan bersolek.

Dari kamar (gotakan), sampai pada masjid, aula, hingga got-got, kamar mandi, dan kuburan di kompleks sekitar pesantren. Namun, mengapa pesantren selalu diidentikkan dengan gudik? Apakah ini alat untuk mengucilkan pesantren?

Apa itu Gudik?

Secara ilmiah, gudik berasal dari kutu/penyakit sarcoptes scabiei. Catatan Roncalli (1987), menyebut Celsus, tabib era Romawi kuno merupakan orang pertama kali memopulerkan “scabies” untuk penyakit gudik/kudis. Scabies berasal dari bahasa Latin “scabere” yang berarti “menggaruk”. Sementara Hee (2005) menyebut sarcoptes scabiei berasal dari bahasa Yunani, sarx (daging) dan koptein (menancap/memotong). Dari segi harfiah, skabies artinya gatal pada kulit yang melahirkan aktivitas menggaruk kulit gatal itu.

Scabies dikenal manusia sejak dulu. Catatan Arlian (1989) dan Burgess (1994), menyebut bukti arkeologi dan gambar hieroglif dari zaman Mesir kuno menunjukkan scabies telah menyebabkan iritasi bagi manusia sejak 2.500 tahun silam. Pada abad pertengahan di  Eropa (Yunani dan Romawi), scabies identik dengan gatal-gatal yang terjadi pada orang di lingkungan kumuh dan miskin (Griana, 2013: 38).

Scabies telah disebutkan berbagai penulis, termasuk seorang tabib dari Arab, Abu Al-Hasan Ahmad Al-Tabari (±970 M), pendeta yang  bernama Hildegard (1098-1179 M), dan tabib dari bangsa Moor, Avenzoar (1091-1162 M).

Ramos-e-Silva (1998), mencatat Aristoteles  (384-322 SM) menjadi orang pertama  yang mengidentifikasi tungau penyebab scabies dengan gambar sebagai “kutu di dalam daging” yang disebut “akari”.


Dari data ini, gudik sebenarnya bukan penyakit yang lahir dari atau khas pesantren. Sebab, gudik sudah terjadi ribuan tahun silam yang mendera masyarakat Eropa, Mesir, dan belahan dunia. Namun ada mitos menarik, karena pesantren di Nusantara selalu identik dengan hal itu. Apakah ini muncul dari internal pesantren atau ada pihak luar yang sengaja menghembuskan isu itu?

Padahal, Aritoteles jauh-jauh hari sudah meneliti penyakit kulit tersebut. Artinya, penyakit ini sangat tua dan lekat dengan mitologi. Buktinya, bangsa-bangsa maju sudah terjangkiti gudik sejak dulu.

Gudik dalam Bahasa Indonesia disebut kudis yang diadopsi dari sarcoptes scabiei atau tungau, sebuah kutu yang hidup di antara kulit manusia. Gejalanya, kulit gatal, berwarna merah, bahkan panas dan mendorong penderita menggaruk-garuknya. Gejala seperti ini di pesantren sangat wajar. Masalahnya, apakah semua pesantren dan semua yang nyantri harus gudiken?

Siregar (2005) berpendapat, kudis bagi masyarakat Jawa disebut gudig, di Sunda disebut budug. Gudik merupakan penyakit menular akibat mikroorganisme parasit yaitu sarcoptes scabei varian humoris, yang penularannya terjadi secara kontak langsung dan tidak langsung. Secara langsung, misalnya, bersentuhan dengan penderita atau tidak langsung misalnya melalui handuk dan pakaian. Skabies dapat berkembang pada higien perorangan yang jelek, lingkungan kurang bersih, demografi status prilaku individu.

Gudik merupakan masalah dunia. Tidak hanya bagi santri, mahasantri, namun juga penghuni kos-kosan, kontrakan, losmen, wisma, hingga di hotel-hotel. Buktinya, riset Putri (2016: xii) menyebut WHO mengidentifikasi skabies sebagai salah satu penyakit yang perlu mendapatkan perhatian lebih karena merupakan kontributor substansial bagi morbiditas dan mortalitas global.

Selain faktor lingkungan kumuh, “kebersihan diri” juga menentukan orang terkena gudik atau tidak. Sebab, penyakit ini lahir menular, ketika satu orang tidak bersih, dan memakai handuk, sarung, sapu tangan, kemudian dipakai yang lain, maka dapat menular. Begitu juga dengan sabun, dan peralatan mandi ketika dipakai berjemaah akan mudah menularkan penyakit gudik.

Gudiken dan Mitos Keberkahan

Dulu, bahkan sampai sekarang, di kalangan kaum sarungan ada pameo “jika belum gudiken, berarti belum layak disebut santri”. Atau, ilmu yang didapat belum masuk bahkan belum berkah. Pameo ini menjadi sakral karena hampir semua santri yang mondok di pesantren salaf maupun khalaf pernah merasakan gudiken.

Baca Juga:  Menyoal Blangkon sebagai Pakaian Islami
Bagi saya, hidup di pesantren penuh tempaan berat. Selain tugas sekolah/kuliah, kewajiban piket, ro’an, ta’zir, membantu Pak Kiai berdagang/bertani, pesantren beban hafalah baik Alquran, Alfiyah, Imriti, dan lainnya menjadikan santri lalai bahkan tak sempat mandi teratur. Hal inilah menjadikan gudik mudah menyerang santri.

Belum lagi, prinsip di pesantren lebih dominan “kebersihan adalah tugas bersama” sehingga mereka jarang menjaga kebersihan diri bahkan “lupa” untuk membersihkan diri secara fisik.

Pola satu untuk semua, baik itu sarung, handuk, sabun mandi, sendal, menjadi penyebab pula santri mudah terserang scabies. Bahkan, ayah saya pernah bilang, bahwa pesantren adalah “penjara suci” di dunia. Ketika mampu lolos sampai boyong, maka ia sudah kafah menjadi santri meskipun santri tidak pernah pensiuan belajar ngaji.

Kebersamaan di pesantren menjadikan santri “lupa” dengan diri sendiri atau mengurus kebersihan diri. Sebab, kepentingan umum sangat diutamakan daripada kepentingan pribadi. Wujud egaliter inilah yang menjadikan kehidupan santri setelah boyong menjadi berkah, karena tidak individualis dan mengutamakan kebersamaan.

Ketika santri terkena gudik, maka sudah sah, legal, dan itu menjadi simbul “nggeteh” atau prihatin tingkat tinggi. Seperti petani, ketika ia mencangkul dan tangannya belum kapalen atau di jari tangannya belum keluar benjolan keras, maka mereka belum sah disebut petani. Seperti penjahit, ketika tangannya belum pernah tertusuk jarum, maka ia belum piawai menjadi penjahit.

Uniknya, banyak santri yang merasa betah, bahkan orang kaya raya ketika menjadi santri selalu rindu akan kehidupan pesantren. Anehnya lagi, ketika hidup di pesantren terkena gudik, namun santri pulang rumah, sembuh. Kemudian ketika pulang ke pesantren, kumat lagi. Inilah yang menjadikan “gudik” sebagai simbol keberkahan karena hanya di pesantren gudik itu muncul.

Meski demikian, tidak semua santri pernah gudiken dan meski pernah, itupun hanya sekali, dua kali. Sebab, gudiken banyak faktornya, apalagi di pesantren, sangat berbeda dengan teori-teori ilmiah yang dikaji pada peneliti kesehatan.

Lantaran menjadi adagium sakral, maka gudik seolah-olah menyugesti santri untuk gudiken. Padahal, secara rasional, tidak semua kiai menyarankan demikian. Pasalnya, gudik merupakan penyakit alamiah, pemberian Allah, bukan buatan kiai dan santri.

Bahkan, di sebuah grup Facebook ada yang menggelorakan nama “Gudik” sebagai akronim dari “Genarasi Ulama Didikan Kiai”. Tentu, ini bukan tanpa alasan, namun sudah berdasarkan epistemologi dan empirisme yang teruji di pesantren. Artinya, santri yang gudiken berarti harus siap menjadi penerus ulama yang menjaga agama dan negara.

Baca Juga:  Membongkar Misteri “Al-Ummi” Kanjeng Nabi
Gudiken atau tidak bukan soal “kumuhnya” pesantren, melainkan lebih pada pola “kesehatan diri” dan keberkahan ilmu pesantren. Sebab, tidak semua santri pernah gudiken, dan yang tidak gudiken belum tentu pandai menjaga kebersihan diri. Begitu yang gudiken, belum tentu kemproh (tidak pandai menjaga kebersihan), namun lebih pada penyakit alamiah, atas kehendak Allah. Inilah enigma yang hanya diketahui Allah.

Anjuran Hidup Sehat

Meski gudik bisa mendera siapa saja selain santri, namun santri harus tetap menjaga doktrin “kebersihan sebagian dari iman”. Artinya, hidup bersih, sehat, dan kuat harus terwujud lahir serta batin. Untuk itu, hidup sehat menjadi harga mati bagi semua santri. Ada beberapa anjuran yang dapat dilakukan.

Pertama, warga pesantren, tak pandang bulu, harus meningkatkan derajat kesehatan santri. Kedua, peningkatan edukasi/literasi kesehatan, pengetahuan tentang kesehatan secara umum, khususnya tentang penyakit menular sehingga diharapkan ada perubahan sikap diikuti dengan perubahan.

Ketiga, menjadikan pola “satu milik semua” hanya untuk hal-hal/benda tertentu. Sebab, gudik merupakan penyakit menular yang dekat dengan handuk, sarung, sapu tangan, dan peralatan mandi. Ketiga, mandi minimal tiga kali sehari, meskipun harus antre dan usahakan badan kering ketika usai mandi. Gudik, akan mudah tumbuh ketika usai mandi, namun anggota badan masih basah dan lembab.

Keempat, mencegah gudik lebih baik daripada mengobati. Maka jika bisa, semua pesantren memahami hal ini dalam rangka syiar, bahwa pesantren tidak selamanya kumuh karena stigma ini sangat sesat dan menyesatkan. Sudah saatnya pesantren bersolek, dan minimal harum dan bersih dalam waktu sehari, bukan minggunan apalagi bulanan, atau ketika ada acara saja.

Kelima, gudik lahir akibat “kutu” bukan “kutukan”. Namun penyakit gudik yang jelas hanya Allah yang tahu dan kepada siapa diturunkan, itu hak veto Allah.

Ketika sudah masuk ke penjara suci bernama pesantren, santri harus siap gudiken. Sebab, gudik di pesantren lebih memiliki nilai-nilai keberkahan yang tinggi daripada gudiken di hotel atau di kos-kosan.

Ketika orang gudiken di pesantren, jelas ia adalah santri, dan santri mukim bukan santri kalong. Tapi ketika gudiken di kos-kosan, kontrakan, losmen, dan hotel, apakah dia santri? Tentu tidak. Maka, apakah Anda akan menolak gudiken ketika nyantri di pesantren?


Posting Komentar

0 Komentar