Artikel Terbaru

header ads

Pondok Pesantren Dan Urgensi Nilai-Nilai Kearifan Lokal Sebagai Modal Sosial Dalam Pembangunan


*) Ahmad Firdausi

Pemikir Alvin Toffler melalui buku The Third Wave membagi peradaban manusia dalam tiga gelombang peradaban: Pertama, gelombang pembaruan (800 SM–1500 M) dimana manusia mulai menemukan dan menerapkan teknologi pertanian. Kondisi ini berimplikasi pada kebiasaan manusia dari berpindah-pindah menjadi mendiami suatu tempat. Kedua, gelombang masyarakat industri (1500–1970 M) yang lahir sebagai akibat renaissance Revolusi Industri yang ditandai dengan: a) imperialisme dan kolonialisme;  b) mulai berbudaya produk massa, pendidikan massa, komunikasi dan pendidikan massa; c) ilmu pengetahuan dan teknologi mengalami kemajuan pesat; d) terjadi perpindahan penduduk dari desa ke kota sebagai akibat dari pembangunan di kota besar. Ketiga, gelombang peradaban baru (mulai 1970) yang digerakkan dan ditandai dengan revolusi ilmu pengetahuan dan teknologi. Pada gelombang ini terjadi deurbanisasi dan globalisasi karena kemajuan pesat teknologi informasi dan ilmu pengetahuan. Apabila gelombang pertama adala tesa, gelombang kedua adalah anti-tesa, maka gelombang ketiga ini adalah sintesa. Era revolusi teknologi ini disebut juga dengan the knowledge age.


Gelombang peradaban ketiga meniscayakan pembangunan di berbagai bidang kehidupan. Pembangunan diasumsikan sebagai upaya untuk memperbaiki kehidupan manusia atau memperbaiki sesuatu agar lebih baik; tercapainya tingkat kesejahteraan atau kualitas kehidupan yang lebih baik. Memperbaiki kehidupan berarti melakukan pembangunan dengan tidak mengabaikan kearifan lokal. Nilai-nilai kearifan lokal harus terinternalisasi dalam segala proses pembangunan, mulai dari perencanaan, pelaksanaan sampai pasca pembangunan. Todaro dalam Economic Development in The Third World, menyampaikan bahkan nilai-nilai kearifan lokal harus menjadi inspirasi dari pembangunan antara lain:
a. Swasembada yang bermakna masyarakat memiliki kemampuan untuk memenuhi berbagai kebutuhannya sendiri. Kemandirian ini merupaka nilai yang lama ada dan tertanam dalam masyarakat bangsa ini. Pembangunan harus dilakukan tidak hanya secara fisik infrastruktur, tetapi juga harus mempertahankan budaya dan nilai-nilai kearifan lokal;
b.   Jati diri dan karakter berupa percaya dan yakin atas kemapuan diri sendiri sehingga sulit untuk diperalat oleh pihak manapun yang berpotensi merugikan;  
c.       Kreativitas dan rasional dalam mengambil keputusan bagi perbaikan kualitas kehidupan.

Pada saat kearifan lokal telah menjadi inspirasi dalam pembangunan, ini menunjukkan bahwa tradisi lokal memiliki kemampuan untuk berdialog dan bersinergi dengan modernitas. Keduanya dapat saling melengkapi dan menghasilkan sesuatu yang produktif. Kondisi sosial dan politik aktual di Indonesia saat ini menunjukkan bahwa diperlukan kemapuan untuk mengelola dengan bijak dua potensi tersebut agar lebih produktif. Tradisi lokal tidak akan mungkin menolak modernitas, sebaliknya modernitas akan selalu berjumpa dengan tradisi lokal. Idealnya yang dilakukan adalah mengadopsi modernitas tanpa harus mengabaikan traddisi. Mendiskusikan kemungkinan-kemungkinan untuk memisahkan kedua sama halnya dengan melakukan perbuatan yang sia-sia.

Untuk konteks Indonesia, yang saat ini sedang gencar melakukan proyek pengembangan Kawasan dan pembangunan nasional, yang penting dilakukan adalah mensinergikan keduanya dengan maksud menghasilkan sesuatu yang lebih produktif, yaitu kesejahteraan masyarakat. Oleh karena itu, pembangunan harus mempersepsikan dan memposisikan masyarakat sebagai subyek dan obyek serta mendorong keterlibatannya secara langsung dalam pengembangan pembangunan. Apabila hal ini dapat diwujudkan, maka bangsa ini memiliki modal sosial yang luar biasa dalam melakukan pembangunan.

Modal sosial merupakan gambaran kehidupan sosial yang memungkinkan bagi masyarakat untuk bertindak bersama secara lebih efektif untuk mencapai tujuan bersama. Modal sosial tentu  berbeda dengan modal kapital. Menurut Ernan Rustiadi dalam Perencanaan dan Pengembangan Wilayah, modal sosial memiliki sifat seperti:
a.      tidak habis karena digunakan, sebaliknya akan habis jika tidak digunakan;
b.      tidak mudah diamati dan diukur;
c.       sulit dibangun dengan intervensi dari luar. Dengan demikian, pembangunan sosial merupakan proses pembangunan dengan pendekatan yang berbeda dengan pembangunan fisik.

Meskipun demikian pemahaman terhadap dimensi-dimensi modal sosial tidak dapat diabaikan karena akan menentukan pola pendekatan pembangunan yang dibutuhkan. Dimensi-dimensi modal sosial adalah sebagai berikut:
1.      Hubungan Saling Percaya
Hubungan saling percaya akan memupuk kerjasama. Terdapat dua macam tipe yaitu: a) hubungan saling percaya dengan individu atau kelompok yang sudah diketahui atau dikenal; b) hubungan saling percaya dengan individu atau kelompok yang tidak dikenal. Membangun kepercayaan memerlukan waktu yang lama dan apabila telah terjadi ketidakpercayaan maka membangun kerjasama akan sulit terwujud.
2.      Norma
Merupakan hak sosial melakukan kontrol atas tindakan seseorang oleh seseorang lainnya. Hal mengontrol ini disertai dengan adanya bentuk sanksi-sanksi yang dapat membentuk perilaku yang patut.
3.      Jejaring (Networking) dan Keterkaitan (Linkage)
Keterkaitan merupakan ikatan vertikal terhadap kekuatan luar dan ikatan horizontal antara pelaku-pelaku lokal. Keterkaitan ini dapat bersifat cukup kuat seperti di dalam jaringan keluarga atau jaringan kerja. Dalam Jejaring, modal sosial dibedakan menjadi tiga tipe:
a.      Bonding social capital; dicirikan dengan kuatnya ikatan antar anggota masyarakat dalam kelompok etnis tertentu. Beberapa pandangan menyamakan ikatan ini dengan modal sosial yang terbangun akibat adanya rasa percaya antar kelompok orang yang saling mengenal;
b.      Bridging social capital; dicirikan oleh semakin banyaknya ikatan antar kelompok dari berbagai etnis yang ada. Seperti: asosiasi bisnis, profesi, dll;
c.       Linking social capital; dicirikan oleh hubungan antara berbagai tingkat kekuatan dan status sosial yang berbeda seperti keterkaitan antar elit politik atau antar individu dari berbagai kelas yang berbeda. 

PONDOK PESANTREN DAN PEMBANGUNAN: KEARIFAN DAN JATI DIRI BANGSA
Di era teknologi informasi dan ilmu pengetahuan yang melesat begitu cepat, bangsa Indonesia dihadapkan pada berbagai permasalahan yang tidak ringan sebagai dampak dari globalisasi dan modernisasi. Sebuah kondisi dimana masyarakat dengan mudah mendapatkan informasi dari berbagai jenis media. Beragam informasi yang berkembang tanpa batas tidak seluruhnya relevan dengan kearifan dan tradisi bangsa Indonesia. Hal ini jika tidak segera diantisipasi, tentu akan berdampak pada perubahan sosial masyarakat. Nilai-nilai kearifan lokal, religiusitas, dan budaya mulai ada kecenderuangan mulai mengalami keterasingan. Fakta yang ada di masyarakat saat ini adalah mulai muncul kecenderungan berkurangnya pemahaman dan implementasi masyarakat, terlebih digenerasi milenial. Seringkali kita disajikan pemberitaan tentag mulai memudarnya semangat nasionalisme dan patriotisme, pelanggaran displin dengan mudah kita jumpai, perbedaan mulai dipertajam, persamaan sedikit dilupakan, dan etika mulai ditinggalkan. Kondisi seperti ini semakin memprihatiknkan ketika pemerintah lebih berorientasi pada pembangunan fisik dan infrastuktur. Bangunan mewah, jalan, jembatan dan infrastruktur mewah menjadi orientasi dan tolok ukur kesuksesan pembangunan. Di saat yang bersamaan, pembangunan mental masyarakat untuk menumbuhkembangkan jati diri dan karakteristik bangsa Indonesia tidak lagi menjadi prioritas utama.

Apabila terjadi pembiaran terhadap problematika di atas, tentu bangsa Indonesia akan berhadapan dengan dampak globalisasi yang akan menggerus kearifan, jati diri dan karakteristik bangsa ini. Hal ini meniscayakan adanya peningkatan kualitas masyarakat, yaitu dengan menjadikan manusia Indonesia sebagai pribadi yang menguasai ilmu pengetahuan dan teknologi, serta memiliki karakter dan jati diri bangsa Indonesia. Ini hanya dapat dilakukan dengan keseriusan pemerintah untuk mendesain, mengembangkan, melembagakan dan mengintegrasikan berbagai dimensi karakteristik bangsa ini ke dalam berbagai sisi kehidupan, termasuk pembangunan; dan semua ini sudah ada di Pondok Pesantren.

Sebagai lembaga pendidikan Islam tertua di Indonesia yang tumbuh dan berkembang disertai dengan kemampuauntuk menyesuaikan diri dengaperkembangan zaman serta mengawal dakwaIslamiyah rahmatan lil ‘alamin dIndonesia, pondok pesantren dipersepsikan sebagai institusi pembina moral, dakwah, dan pendidikaIslam yang memiliki kekhasan tersendiri dan memiliki ketahanan diri dalam menghadaptantangainternal maupun eksternal. Kekuatan untuk beradaptasi terhadap perkembangan zaman ini menjadikan pondopesantren memiliki  kekhasan  tersendiri  sehingg digolongkan  dala subkultutersendiri dalam masyarakat Indonesia sehingga masyarakat melekatkan harapan dapredikat yandilekatkan padanya, sesungguhnya berujung pada tiga fungsi utama yang senantiasa diemban, yaitu: Pertama, sebagapusat pengkaderan pemikir-pemikir agama (Center of Excellence).  Kedua sebaga lembag yang  menceta sumbe daya  manusia  (Human Resource). Ketiga, sebagai lembaga yang mempunyai kekuatan melakukan pemberdayaapada masyarakat (Agent of Development). Pondok pesantren juga dipahami sebagai bagian yang terlibadalam proses perubahan sosial (Social Change) di tengaperubahan yanterjadi.

Dalam proses transformasi ilmu pengetahuan di pondok pesantren, pengasuh akan mendidik dan menanamkan nilai-nilai keagamaan dan kearifan lokal sehingga santri akan memiliki karakter sebagai berikut: 1) Cinta kepada Tuhan dan seluruh makhluk ciptaan-Nya; 2) Cinta bangsa dan negara, tenpat lahir, tumbuh, berkembang, dan berkarya; 3) mandiri dan bertanggung jawab; 4) jujur dan berintegritas; 5) hormat, sopan, santun dan rendah hati; 6) memiliki solidaritas yang kuat, sanggup bekerjasama dalam kebaikan, dan tolong menolong; 7) percaya diri dan kerja keras; 8) memiliki jiwa pemimpin dan bersikap adil; 9) berdamai dengan lingkungan dan toleran

Dengan demikian, sudah saatnya proses pembangunan harus dilakukan secara menyeluruh dan komprehensif sesuai dinamika yang berkembang seiring modernisasi dengan tidak meninggalkan jati diri dan karakteristik sebagai bangsa Indonesia. Pondok pesantren merupakan lembaga pendidikan yang komprehensif dengan beragam kekhasan, karakteristik, kearifan, nilai luhur, dan tradisi yang sudah lama ada, tumbuh dan berkembang. Posisi pondok pesantren harus kembali dimantapkan sebagai lembaga pendidikan unggulan bangsa Indonesia.

Karakter luhur pendidikan pondok pesantren dengan berbasis nilai-nilai keagamaan dan kearifan lokal harus menjadi cita-cita, tujuan serta inspirasi bangsa Indonesia. Kandungan filosofis di dalamnya harus terinternalisasi dalam seluruh elemen bangsa ini sehingga memiliki karakter: 1) religius dan saling menghormati antar umat beragama; 2) menghargai adanya perbedaan dan menjunjung tinggi persatuan; 3) menjunjung tinggi musyawarah untuk mufakat dan menghormati perbedaan pendapat; 4) demokratis, berdaulat, terbuka, dan memiliki jiwa patriotisme; 5) memiliki kemampuan menguasai teknologi informasi dan ilmu pengetahuan tanpa kehilangan jati diri sebagai bangsa Indonesia.

Pondok Pesantren Bisa!


*) Sekretaris PW RMI Jawa Timur; Direktur Institute for Nusantara Studies (INNUS) Surabaya
alamat email:  ahmadfirdausi.af@gmail.com

Posting Komentar

0 Komentar