Artikel Terbaru

header ads

Liwetan dan Nilai Sosialnya


Liwetan merupakan acara makan bersama dalam satu wadah dengan berbagai lauk yang diletakkan di atas nasi. Wadahnya bisa dari daun atau nampan. Sebutan liwetan pada mulanya dirujukkan pada bahan yang digunakan yaitu nasi liwet, jenis nasi yang diolah secara khusus yang kemudian disebut nasi liwet. Dalam perkembangannya, nasi yang digunakan tidak harus menggunakan nasi liwet. Prinsipnya makan bersama dalam satu wadah menjadi ciri khas tradisi liwetan.

Tradisi liwetan sudah ada sejak ratusan tahun lalu. Berkembang di berbagai kelompok masyarakat. Sebagian orang menyebut asal nasi liwet dari Solo, namun di beberapa daerah juga memiliki jenis tradisi ini. Sampai saat ini tradisi liwetan tetap dilakukan oleh sebagian masyarakat kita, bahkan menjadi menu “mewah” di restoran-restoran.

Sebagian ahli menyebutkan bahwa tradisi liwetan merupakan salah satu bentuk slametan yang sudah ada di masyarakat dahulu. Sebuah tradisi berkumpul, menyuguhkan aneka makanan, berdoa bersama dilanjutkan makan-makan bersama. Ada yang menggunakan makanan berbentuk tumpeng dengan berbagai lauk yang menyertainya. Nah, salah satu bentuk lainny adalah menggunakan nasi liwet dengan cara penyajiannya memanjang di atas daun, atau di atas nampan. Liwetan diselenggarakan untuk keperluan tertentu, misalnya pada tengah bulan (bulan prunama), upacara kehamilan, upacara selametan desa atau adanya permohonan khusus masyarakat untuk kepentingan bersama.
  
Di pesantren juga memiliki tradisi liwetan, di mana proses memasak dan makan dilakukan secara bersama-sama. Bahan-bahan biasanya urunan dari beberapa santri. Ada yang menyerahkan beras, cabe, garam, lauk dan sayur. Ada yang bertugas membuat sambelnya. Ini bisa dilakukan hampir setiap hari atau pada momen-momen tertentu. Acara liwetan yang dilakukan besar-besaran melibatkan banyak santri biasanya disebut juga mayoran, atau liwetan yang istimewa tidak seperti biasanya. Didunia pondok pesantren khususnya pondok salaf, mayoran adalah tradisi makan bersama yang biasa digelar pada hari-hari libur, misalnya malam jum'at atau ketika penutupan kegiatan pondok pesantren saat ujian semester telah berakhir.

Tradisi makan di pesantren saat ini sudah mulai berubah dalam bentuk katering, di mana santri tidak perlu memasak, tinggal makan pada jam-jam tertentu yang sudah terjadwal. Santri tidak direpotkan dalam urusan dapur, agar lebih fokus. Namun, sebagai tradisi, liwetan tetap bertahan sampai saat ini, meski sudah ada model baru dalam pemenuhan makan di pesantren. Mengapa demikian? Karena tradisi liwetan memiliki nilai-nilai sosial yang sangat baik dan masyarakat menyukainya.

Melalui liwetan, masyarakat bisa berkumpul bersama, tidak membedakan jabatan, pangkat dan golongan. Semua menikmati makanan yang sama, duduk sama rendah, dari wadah yang sama. Rasa kebersamaan dan hubungan kemanusiaan terus terawat dan terjaga melalui tradisi liwetan. Selain soal makan, liwetan juga mengajarkan bahwa persoalan makan tidak sekedar makan, tetapi juga soal hubungan sosial. Siapapun bisa saja makan enak tiap hari di restoran, tetapi nilai kebersamaan dan persatuan tidak bisa dibeli di restoran. Apalagi dalam tradisi santri, liwetan selalu didahului acara do’a bersama. Ini tentu memberikan nilai tersendiri, memberi keberkahan dalam makanan maupun dalam berkumpul.

Nah, kapan anda liwetan terakhir kalinya? Atau belum pernah? Coba deh, nanti dijamin ketagihan.

Sururi Arumbani




Posting Komentar

0 Komentar